Saturday 22 January 2011

aku dan tuanmu

Malam itu begitu terasa sunyi, semua orang tak peduli, mereka tersenyum lepas, keluarga kami disakitinya, tangan kotor mereka berhasil menjinakan kami, menyesal tunduk pada kekuasaan yang tak pernah sepatutnya kami takuti.
di situ orang-orang berkumpul, sebagian bahkan menertawakan kami, mencaci kami.
"kau kotor ucapnya, hinamu membuat kami murka," mengerikan mengerikan suasana terasa megitu membabi buta, satu persatu di lucutinya kami, tak tersisa tak berbekas, luka itu terasa mencekam setiap kali kami terbangun, tanpa sadar iblispun mengambil perannya.
"aku tuanmu, aku yang sepantasnya kau takuti, akulah yang kau cari," ia tertawa. di lain sisi  kami tak sekalipun tunduk atas kekuasaanmu, kami tak mau menjadi budak atas ulahmu!!, tertawalah, tertawalah tak sekalipun kami menjamak istanamu.
kau tau semua hanyalah halusinasi, ha..ha..haa kau liat keluarga itu, betapa sulitnya ia, betapa menderitanya ia tidakah kau tau dan merasakannya, anak kecil itu begitu senangnya, menderita dalam keterbatasannya, kaki -kaki kecil mereka berlarian tangan-tangan mereka menari-nari senyum mereka begitu damai, adakah yang lebih menderita darinya???, begitu adilnya tuhan menciptakan si kaya dan si miskin, begitu adilkah ketika kesombongan mereka membutakan hati??, tanyalah pada hatimu.

Thursday 13 January 2011

KAUSAL "harapan orang tua terhadap anaknya"


ketika itu, ketika aku lahir mereka berharap-harap cemas akan jadi apa aku nanti
merekapun terus berdoa, dan dalam doanya mereka menyelipkan namaku di antara sejuta harapan.
memang tak banyak yang mereka inginkan dari kami, mereka hanya berkata "jadilah anak yang berguna untuk mama, papa dan keluarga angkatlah drajat papamu mamamu, tunjukan kalau kamu anak papa mama," ucapnya.
seketika itu ucapan haru terus mengalir seiring harapan dan juga pencapaian, di sibaknya kedua matanya yang tampak tenang itu 
dan ketika itu aku hanya bisa tertawa, menangis dan tak menau, tapi mereka mengajarkanku, mengajarkanku arti sebuah transisi dalam hidupku, lalu secara perlahan di betulkannya letak leherku ketika mata mulai terpejam, lidah tak lagi berkata, dan ketika malam semakin larut mereka menjagaku, mereka dengan sabar menungguku terlelap, sapai benar-benar lelap
dan ketika aku menagis malam itu, tangisanku membuat mereka terbagun, mereka tak mempersalahkanku, mereka dengan sabar menenangkanku, mengusapku, menggendongku dan menimangku dengan seutas kasih sayang
saat itu mereka tak punya cukup waktu tidur, dan tak cukup lelah untuk menjagaku, namun perhatian dan kasih sayang yang mereka  berikan lambat laun mulai mendewasakanku seiring dengan waktu yang terus berjalan pelan, pelan namun pasti
dan ketika semakin besar perhatian yang mereka berikan, akupun mulai merangkak dari tempat tidurku, semula mereka menuntunku, kaki-kaki kecilkupun mengikuti langkah geraknya, ketik itu terdengar "kamu bisa nak, mama papa ada untukmu," ucapnya dengan penuh harapan
dan kasih itu terlihat begitu nyata ketika aku terjatuh dalam pangkuannya, sampai suatu ketika aku terbaring dari tempat tidurku, setelah ku buka mata mereka di sampingku mereka tetap terjaga dan menungguku, sampai aku bener-bener sembuh dari sakitku
waktu kian semakin bergulir dengan sendirinya, tak bisa di tebak, dan tak ada yang menebak tanpa sadar akupun semakin beranjak dewasa, proses yang sebelumnya pernah terjadi membuat perjalananku semakin sempurna adakah sebuah kesalahan yang kini pernah kubuatnya, aku terdiam, merenung. ketika itu rambut mereka memutih, nafas mereka terenga ada keinginan untuku membalas kasih sayang itu, tuntutan itu begitu terasa namun aku tak mampu aku tak sanggup mereka begitu sempurna, akupun kini berada di titik di mana rasa cemas begitu merubah jalan hidupku, aku mulai lupa, aku mulai terjatuh, lingkunganku mendukungku, hingga akhirnya degradas moral menimpaku, saat itu mereka hanya diam, karna mereka percaya aku mampu bangkit dan keluar dengan sendirinya, ketika malam tiba mereka berdoa untukku, hingga akhirnya tetesan air mata tak mampu di bendunya dan tangan yang sudah tampak lunglai itu menyibak kelopak matanya yang tampak teduh, saat itu aku tak menau dan tak mau tau, tak sekalipun aku peduli aku bener-benar telah lupa pada proses pendewasaanku aku lupa pada semua kasih sayangnya itu.
hingga suatu ketika aku menemukan sesuatu yang berarti dalam hidupku, semuanya telah merubah jalan hidupku dan ketika kuterbangun dan sadar semoga ini hanyalah sebuah mimpi buruk dalam hidupku...

Tuesday 11 January 2011

MATA LENSA

Waktu itu, waktu umurku masih 12 tahun rasanya tak terfikirkan olehku menjadi seorang journalis, pergi kebeberapa tempat konflik, mengabadikan moment penting yang menurut kita tidak ada hubungannya dengan kita, hingga menjadikan diri kita sebagai media bagi para publik, namun tidak untuk saat ini di mana saat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya ketika serangkaian peristiwa telah banyak mengubah garis hidupku, ketika umurku menginjak 14 tahun peristiwa besar menyadarkanku “apapun itu, dan bagaimanapun itu, kebenaran itu harus di ungkapkan tanpa terkecuali,” serongsong timah panas menembus jantung orang yang ku anggap penting bagi diriku, setelah kusadar itu, aku berdiri di sini dengan tujuan dan jalan yang ku pilih.
            Waktu itu terasa panas menyengat namun tak menyulutkan niatku untuk mengabadikan moment yang ku anggap penting, setidaknya itu bagi diriku. Kulihat sekumpulan anak tunawisma berlarian di tengah teriknya panas matahari, ia tak pernah  mengeluh, dan tak pernah pula ia menghendaki dirinya seperti itu, akupun mencoba mengamati dan memperoleh kecerian dari anak-anak tersebut, aku berfikir orang yang lebih beruntung darinya saja, sekalipun ia anak pengusaha, anak pejabat tetap saja merasa tidak puas akan kekayaan orang tuannya, hingga akhirnya ia mencari kepuasan dengan caranya, di tempat di mana orang depresi menyelesaikan masalahnya dengan narkotika dan sejenisnya. Namun tidak bagi mereka, tak terfikirkan oleh mereka, senyum mereka benar-benar tulus tak ada senyum licik picik yang di penuhi dengan kemunafikan.
            “hey nak ini untukmu,” ku dekati dan kuberikan coklat pasta. sekejap tangan-tangan kecil merekapun menerimanya tak ada rasa curiga sedikitpun dari mereka senyum kecerian tergambar di balik penderitaan yang mereka alami. “terimakasih ka,” ucapnya. Tak lama ku coba untuk mencari tau latar belakan, nama dan juga tempat tinggalnya, mula-mula memang sulit untuk mencari tau sebab pada dasarnya mereka cenderung tertutup untuk persoalan pribadi. Hingga pada akhirnya kaki-kaki kecil mereka mengantarkan diriku ke sebuah pemukiman padat penduduk yang di apit antara gedung-gedung pencakar langit yang tampak kokoh, ini amat sangat kontradiktif sekali ketika aku berada di sini di tempat di mana tak pernah ku duga sebelumnya anak-anak dengan bebas bermain di antara jalan-jalan sempit, berlari, tertawa, menangis, bersiul semuanya bisa mereka lakukan di sini, di tempat ini, dengan situasi seperti ini. Ini adalah kebebasan yang tak ia temukan di luar sana dan ketika cacian makian mereka dapatkan, namun semuanya seakan sirna ketika sesampainya di sini.
”hey coba lihat aku dapat.” teriak seorang anak sambil mengepalkan cicak.  “coba lihat hasil tangkapanku lebih besar dari tangkapanmu,” teriaknya. Tak pernah kubayangkan sebelumnya ku amati dengan seksama “kena kau.” “kali ini kau kalah.” “kau yang kejar aku sekarang.” “hahaha aku tidak mau.” “kau curang.” “coba saja kalau berani, kejar aku.” celotehan-celotehan merekalah yang membuat aku begitu antusiasnya mengabadikan setiap moment penting dari mereka, begitu lepasnya mereka. Inilah sebuah keterbatasan ucapku dalam hati.
            “ini rumahmu, bisakah kau mengantarkan aku masuk,” ucapku dengan salah satu dari mereka sambil membelai rambutnya.
“boleh, silakan ka masuk,” sambil memperkenalkan beberapa orang yang ada di dalam rumah tersebut. “itu yang sedang berkaca-kaca sambil memainkan rambutnya adalah badrul ia sodara jauhku, ibunya telah lama meninggal sedangkan ayahnya tak tau entah kemana sudah lama ia tinggal bersama kami, ia sangat terobsesi menjadi pemain musik, sedangkan yang tengah tertidur sambil memainkan ujung botol susu yang kosong itu adalah adikku iya bernama eva umurnya baru 5 tahun dan orang tuakupun tak mengijinkan ia mendampingiku bekerja di luar sana, ia masih terlalu kecil untuk mendampingiku bekerja,” ucapnya “dan ia satu-satunya pula harapan kami, aku ingin ia nanti bersekolah,” tambahnya dengan penuh harapan.
“kalau begitu di mana orang tuamu,” ucapku.
“kaka duduk saja dulu, sebentar lagi mereka pulang. ibuku seorang buruh cuci dan biasanya ia mengantakan makanan untuk kami di sela-sela istirahatnya. kaka pasti laparkan, tenang saja. Ibuku pasti membawa makanan yang banyak untuk kami,” ucapnya dengan sorot mata penuh cemas.
“sedangkan ayahmu?,” tanyaku kembali.
“ayahku pulang larut malam bahkan saat fajar ia baru pulang ia seorang pembersih kota dan biasanya setelah itu ia menyiapkan koran-koran untuk di bagikan kepada toko-toko kecil untuk di jualnya kembali sedangkan paginya ia harus kembali lagi bekerja sebagai pembersih kota. Hanya punya waktu sedikit bahkan tidak sama sekali untuk bertemu dengan kami, namun di sela-sela istirahatnya ia sama seperti ibuku sering mengantarkan makanan untuk kami walaupun tak sesering ibu,” ucapnya.
“eman, eva, badrun ayo makan, ibu bawa makanan,” teriak seseorang di luar sana.
“nah itu ibu datang ka,” ucapnya menegaskan kepadaku.
Tak lama kemudian ke dua anak yang tadi tengah asik dengan kegiatannya tersebut berlomba-lomba menghampiri sumber suara tersebut.
“aku mau, aku mau, ini punyaku,” ucap salah satu dari mereka. Kemudian yang lainnyapun membalas celotehannya. “dan ini pasti punyaku, aku yang banyak yaa,” teriak salah satu dari mereka. “iya-iya semuanya dapat,” ucap seorang ibu terhadap anak-anaknya.
“eman siapa yang kau bawa masuk,” teriak salah seorang ibu terhadapnya. 
“bukan siapa-siapa ko bu, iya sangat baik terhadap kami, ibu tak usah kawatir ia hanya ingin mengenal kita secara lebih dekat,” ucapnya. “namanya ka wira,” tambahnya.
Sang ibu menatapku, tatapannya seperti menaruh curiga terhadapku “tenang-tenang bu aku tak bermaksud jahat, aku hanya ingin mengenal kalian secara lebih dekat” ucapku.
“baiklah-baiklah silakan di makan nak wira,” dengan nada yang begitu ramah. “man maman apakah kau sudah memberikan ka wira minum,” teriak sang ibu terhadapnya.
“oh iya aku lupa ibu,” teriaknya dari dapur rumahnya
“kalau begitu cepat ambilkan minum,” teriak sang ibu “baiklah-baiklah,” balasnya.
Tak lama berselang maman membawa segelas minuman beserta beberapa makanan yang belum sempat di keluarkannya. “silakan di makan ka,” ucapnya.
“baiklah terimakasih,” ucapku. “sudah berapa lama ibu tinggal di tempat ini,” ucapku dengan mengawali percakapan ku terhadap sang ibu.
“sudah lama sekali nak,  bahkan tak ada yang bisa kami tinggali selain di tempat ini, orang-orang mulai sibuk membangun gedung-gedung tinggi namun kami tak di pikirkannya,” ucapnya dengan nada yang berat.
“seperti itulah memang ketika mereka merasa sudah puas, mana pernah mereka memperhatikan kembali masa-masa sulitnya. Sampai akhirnya musibah menimpanya kembali baru mereka sadar akan keterbatasan dan kekurangannya.”

Thursday 6 January 2011

LAUDRIC


Laudric adalah seorang pengrajin kayu di tempatnya meskipun ia seorang lulusan sarjana geografi namun tak sekalipun ia merasa rendah dengan apa yang di jalaninya. hingga akirnya ia menikah dengan dimitrif anak dari seorang tuan tanah yang juga sebagai pengrajin kayu di tempatnya, dari hasil pernikahannya laudric memiliki satu orang anak dan kini usahanyapun semakin meroket hingga akhirnya ia menjadi pengusaha pengrajin kayu dan memiliki beberapa anak cabang dari usahanya tersebut tak jarang masyarakat setempat menggantungkan hidupnya dari usaha laudric yang dirintisnya dari awal. walaupun sudah menjadi tuan tanah di tempatnya ia tak lupa kepada orang-orang di sekitarnya, karna baginya tak ada kata tidak untuknya membantu masyarakat yang tak mampu di lingkungan desanya entah mulai dari pendanaan kebersihan, keamanan, kesehatan dan juga yang sifatnya pribadi tak segan-segan ia memberikannya, hingga pernah suatu saat lingkungan tempat tinggalnya membutuhkan dana untuk membangun rumah pribadatan dan iapun berada di garis depan dalam upaya mewujudkan keinginan masyarakat setempat.

namun sesuatu yang tak di inginkan terjadi pada keluarganya, seluruh kekayaanya yang selama ini ia proleh dengan susah payah satu persatu meninggalkannya, tak banyak yang iya dapatkan selain untuk menyewa tempat tinggal dan kebutuhan makan selama setahun, dan ia pun memutuskan hijrah dari tempatnya dengan membawa istrinya dan satu anaknya menyewa tempat tinggal dan memikirkan apa yang ia nantinya lakukan ketika keadan tak lagi dapat di tolerir. pada suau malam iapun berkata ke pada dimitrif dalam suasana duka batinnyapun merintih ketika ia mulai mengucapkannya,
"apakah kau masih setia dengan keadaanku yang seperti ini, jika iya katakan iya dan jika tidak itupun bukan kemauanku," ucapnya
"tentunya kau tau 32 tahun kita bersama apakah kau membayar kebahagian yang terjalin salama itu hanya dengan materi, tidakkah kau ingat siapa kau dulu, kau melamarku tidak dengan materi melimpah ruah, tidak kah kau ingat itu."
"sial menyesal aku dengan semua itu," ucap di mitrif dengan penuh sesal.
"kalo memang begitu haruskah aku meminta kembali semua yang sudah hilang untuk mendapatkan kebahagian yang kau katakan itu, laudric," tambahnya.
"sial terlalu bodoh aku ini!!, aku menganggap rendah dirimu, ku kira kau sama dengan yang lainnya, tinggalkan saja aku ini, kau terlalu berharga untukku dimitrif."
"maksudmu apa dengan yang lainnya?!"
"apakah tak cukup lama kau mengenalku, apakah sebelumnya kita tak saling kenal sebelum kau mengikiarkan janji suci itu?!"
"kau mmpermainkan tuhan laudric, lagi-lagi aku menyesal denganmu laudric."
"sudahlah dimitrif aku memang tak pantas untuk mu," laudric menghentikan percakapan itu dan meninggalkan dimitrif yang tengah terduduk di kursi bambu itu.
                                              
“Apa yang aku ucapkan saat itu, pantaskah kata-kata itu keluar di saat itu, dengan situasi yang seperti itu,” pikirnya. kemudian laudric membuka knop pintu rumahnya dan menutup rapat kembali secara berlahan. ia berjalan dengan ataupun tanpa tujuan, yang terfikirkan hanyalah ucapan-ucapan yang di katakan dimitrif. "haruskah aku menjadi orang yang berdosa seperti ini yaa tuhan, rasanya itu bukan aku," pikirnya. "apa yang harus aku lakukan untuk mereka, istriku dan anakku.", "mungkin mereka saat ini menerima atas keadaanku, tapi apalah nanti apakah aku harus membiarkan mereka hidup dalam penderitaan yang aku alami. berdosa sekali aku ini ya tuhanku." ucapnya dengan penuh sesal. seketika air matapun mengalir dari kedua matanya yang tampak teduh itu. saat itu di angkatnya tangan-tangannya yang bergemetar dan tak menau itu disibakannya tetesan-tetesan air mata yang mulai membasahi sekitar kelopak matanya yang damai itu saat itu hatinya bener-benar gundah, nyalanya cahaya lampu jalan di setiap ruas menyamarkan setiap masalah yang di alaminya.

setelah peristiwa tersebut laudric lebih banyak menghabiskan waktunya dengan keluarga dan memperdalam kereligiusannya, jika ketika harta melimpa yang ia pikirkan berhati-hati dalam mempertahanka, dan bagaimana untuk mendapatkan kekayaan, namun kini yang dipikirkannya hanyalah apa yg saat ini bisa kami lakukan untuk keluarga, apa yang bisa kami lakukan untuk orang banyak dan tak ada kecurigaan yang terlintas dari pikirannya semua menjadi sebuah kesatuan, pernah  ketika itu seseorang pekerja yang pernah bekerja dengannya mengunjunginya dan mempertanyakan masalah yang di alaminya, laudric hanya berkata setiap masalah adalah sebuah proses dan proses itu akan hilang dengan sendirinya, tuhan tidak tidur dia tau apa yang kita butuhkan. dan ini, aku sudah melakukan proses yang tuhan inginkan, tak ada penyesalan dan tak ada yang harus di salahkan ucapnya. dan ketika di tanyakan apa yang akan di lakukannya nanti, ia pun hanya berkata apapun yang akan ku lakukan nanti tuhan lebih tau, aku tak ingin menuntutnya akupun tak ingin mendahuluinya aku tak ingin menghentikan proses yang tengah berjalan saat ini. Bagiku ini sudah lebih dari cukup, tak ada lagi kecurigaan tak ada lagi kesombongan dan tak ada lagi kemunafikan yang mungkin pernah kulakukaan pada masa-masa itu, dan akupun kini dapat bernafas lega kutanggalkan segala atribut gelar dan juga kehormatan identitasku kini akupun sama bagian di antara 233 juta orang lainnya, hidup dalam keterbatsan dan juga pengharapan, tak adalagi kata tuan, saudagar kini kitapun sama dan inilah aku  laudric ucapnya.