Saturday, 22 January 2011

aku dan tuanmu

Malam itu begitu terasa sunyi, semua orang tak peduli, mereka tersenyum lepas, keluarga kami disakitinya, tangan kotor mereka berhasil menjinakan kami, menyesal tunduk pada kekuasaan yang tak pernah sepatutnya kami takuti.
di situ orang-orang berkumpul, sebagian bahkan menertawakan kami, mencaci kami.
"kau kotor ucapnya, hinamu membuat kami murka," mengerikan mengerikan suasana terasa megitu membabi buta, satu persatu di lucutinya kami, tak tersisa tak berbekas, luka itu terasa mencekam setiap kali kami terbangun, tanpa sadar iblispun mengambil perannya.
"aku tuanmu, aku yang sepantasnya kau takuti, akulah yang kau cari," ia tertawa. di lain sisi  kami tak sekalipun tunduk atas kekuasaanmu, kami tak mau menjadi budak atas ulahmu!!, tertawalah, tertawalah tak sekalipun kami menjamak istanamu.
kau tau semua hanyalah halusinasi, ha..ha..haa kau liat keluarga itu, betapa sulitnya ia, betapa menderitanya ia tidakah kau tau dan merasakannya, anak kecil itu begitu senangnya, menderita dalam keterbatasannya, kaki -kaki kecil mereka berlarian tangan-tangan mereka menari-nari senyum mereka begitu damai, adakah yang lebih menderita darinya???, begitu adilnya tuhan menciptakan si kaya dan si miskin, begitu adilkah ketika kesombongan mereka membutakan hati??, tanyalah pada hatimu.

Thursday, 13 January 2011

KAUSAL "harapan orang tua terhadap anaknya"


ketika itu, ketika aku lahir mereka berharap-harap cemas akan jadi apa aku nanti
merekapun terus berdoa, dan dalam doanya mereka menyelipkan namaku di antara sejuta harapan.
memang tak banyak yang mereka inginkan dari kami, mereka hanya berkata "jadilah anak yang berguna untuk mama, papa dan keluarga angkatlah drajat papamu mamamu, tunjukan kalau kamu anak papa mama," ucapnya.
seketika itu ucapan haru terus mengalir seiring harapan dan juga pencapaian, di sibaknya kedua matanya yang tampak tenang itu 
dan ketika itu aku hanya bisa tertawa, menangis dan tak menau, tapi mereka mengajarkanku, mengajarkanku arti sebuah transisi dalam hidupku, lalu secara perlahan di betulkannya letak leherku ketika mata mulai terpejam, lidah tak lagi berkata, dan ketika malam semakin larut mereka menjagaku, mereka dengan sabar menungguku terlelap, sapai benar-benar lelap
dan ketika aku menagis malam itu, tangisanku membuat mereka terbagun, mereka tak mempersalahkanku, mereka dengan sabar menenangkanku, mengusapku, menggendongku dan menimangku dengan seutas kasih sayang
saat itu mereka tak punya cukup waktu tidur, dan tak cukup lelah untuk menjagaku, namun perhatian dan kasih sayang yang mereka  berikan lambat laun mulai mendewasakanku seiring dengan waktu yang terus berjalan pelan, pelan namun pasti
dan ketika semakin besar perhatian yang mereka berikan, akupun mulai merangkak dari tempat tidurku, semula mereka menuntunku, kaki-kaki kecilkupun mengikuti langkah geraknya, ketik itu terdengar "kamu bisa nak, mama papa ada untukmu," ucapnya dengan penuh harapan
dan kasih itu terlihat begitu nyata ketika aku terjatuh dalam pangkuannya, sampai suatu ketika aku terbaring dari tempat tidurku, setelah ku buka mata mereka di sampingku mereka tetap terjaga dan menungguku, sampai aku bener-bener sembuh dari sakitku
waktu kian semakin bergulir dengan sendirinya, tak bisa di tebak, dan tak ada yang menebak tanpa sadar akupun semakin beranjak dewasa, proses yang sebelumnya pernah terjadi membuat perjalananku semakin sempurna adakah sebuah kesalahan yang kini pernah kubuatnya, aku terdiam, merenung. ketika itu rambut mereka memutih, nafas mereka terenga ada keinginan untuku membalas kasih sayang itu, tuntutan itu begitu terasa namun aku tak mampu aku tak sanggup mereka begitu sempurna, akupun kini berada di titik di mana rasa cemas begitu merubah jalan hidupku, aku mulai lupa, aku mulai terjatuh, lingkunganku mendukungku, hingga akhirnya degradas moral menimpaku, saat itu mereka hanya diam, karna mereka percaya aku mampu bangkit dan keluar dengan sendirinya, ketika malam tiba mereka berdoa untukku, hingga akhirnya tetesan air mata tak mampu di bendunya dan tangan yang sudah tampak lunglai itu menyibak kelopak matanya yang tampak teduh, saat itu aku tak menau dan tak mau tau, tak sekalipun aku peduli aku bener-benar telah lupa pada proses pendewasaanku aku lupa pada semua kasih sayangnya itu.
hingga suatu ketika aku menemukan sesuatu yang berarti dalam hidupku, semuanya telah merubah jalan hidupku dan ketika kuterbangun dan sadar semoga ini hanyalah sebuah mimpi buruk dalam hidupku...

Tuesday, 11 January 2011

MATA LENSA

Waktu itu, waktu umurku masih 12 tahun rasanya tak terfikirkan olehku menjadi seorang journalis, pergi kebeberapa tempat konflik, mengabadikan moment penting yang menurut kita tidak ada hubungannya dengan kita, hingga menjadikan diri kita sebagai media bagi para publik, namun tidak untuk saat ini di mana saat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya ketika serangkaian peristiwa telah banyak mengubah garis hidupku, ketika umurku menginjak 14 tahun peristiwa besar menyadarkanku “apapun itu, dan bagaimanapun itu, kebenaran itu harus di ungkapkan tanpa terkecuali,” serongsong timah panas menembus jantung orang yang ku anggap penting bagi diriku, setelah kusadar itu, aku berdiri di sini dengan tujuan dan jalan yang ku pilih.
            Waktu itu terasa panas menyengat namun tak menyulutkan niatku untuk mengabadikan moment yang ku anggap penting, setidaknya itu bagi diriku. Kulihat sekumpulan anak tunawisma berlarian di tengah teriknya panas matahari, ia tak pernah  mengeluh, dan tak pernah pula ia menghendaki dirinya seperti itu, akupun mencoba mengamati dan memperoleh kecerian dari anak-anak tersebut, aku berfikir orang yang lebih beruntung darinya saja, sekalipun ia anak pengusaha, anak pejabat tetap saja merasa tidak puas akan kekayaan orang tuannya, hingga akhirnya ia mencari kepuasan dengan caranya, di tempat di mana orang depresi menyelesaikan masalahnya dengan narkotika dan sejenisnya. Namun tidak bagi mereka, tak terfikirkan oleh mereka, senyum mereka benar-benar tulus tak ada senyum licik picik yang di penuhi dengan kemunafikan.
            “hey nak ini untukmu,” ku dekati dan kuberikan coklat pasta. sekejap tangan-tangan kecil merekapun menerimanya tak ada rasa curiga sedikitpun dari mereka senyum kecerian tergambar di balik penderitaan yang mereka alami. “terimakasih ka,” ucapnya. Tak lama ku coba untuk mencari tau latar belakan, nama dan juga tempat tinggalnya, mula-mula memang sulit untuk mencari tau sebab pada dasarnya mereka cenderung tertutup untuk persoalan pribadi. Hingga pada akhirnya kaki-kaki kecil mereka mengantarkan diriku ke sebuah pemukiman padat penduduk yang di apit antara gedung-gedung pencakar langit yang tampak kokoh, ini amat sangat kontradiktif sekali ketika aku berada di sini di tempat di mana tak pernah ku duga sebelumnya anak-anak dengan bebas bermain di antara jalan-jalan sempit, berlari, tertawa, menangis, bersiul semuanya bisa mereka lakukan di sini, di tempat ini, dengan situasi seperti ini. Ini adalah kebebasan yang tak ia temukan di luar sana dan ketika cacian makian mereka dapatkan, namun semuanya seakan sirna ketika sesampainya di sini.
”hey coba lihat aku dapat.” teriak seorang anak sambil mengepalkan cicak.  “coba lihat hasil tangkapanku lebih besar dari tangkapanmu,” teriaknya. Tak pernah kubayangkan sebelumnya ku amati dengan seksama “kena kau.” “kali ini kau kalah.” “kau yang kejar aku sekarang.” “hahaha aku tidak mau.” “kau curang.” “coba saja kalau berani, kejar aku.” celotehan-celotehan merekalah yang membuat aku begitu antusiasnya mengabadikan setiap moment penting dari mereka, begitu lepasnya mereka. Inilah sebuah keterbatasan ucapku dalam hati.
            “ini rumahmu, bisakah kau mengantarkan aku masuk,” ucapku dengan salah satu dari mereka sambil membelai rambutnya.
“boleh, silakan ka masuk,” sambil memperkenalkan beberapa orang yang ada di dalam rumah tersebut. “itu yang sedang berkaca-kaca sambil memainkan rambutnya adalah badrul ia sodara jauhku, ibunya telah lama meninggal sedangkan ayahnya tak tau entah kemana sudah lama ia tinggal bersama kami, ia sangat terobsesi menjadi pemain musik, sedangkan yang tengah tertidur sambil memainkan ujung botol susu yang kosong itu adalah adikku iya bernama eva umurnya baru 5 tahun dan orang tuakupun tak mengijinkan ia mendampingiku bekerja di luar sana, ia masih terlalu kecil untuk mendampingiku bekerja,” ucapnya “dan ia satu-satunya pula harapan kami, aku ingin ia nanti bersekolah,” tambahnya dengan penuh harapan.
“kalau begitu di mana orang tuamu,” ucapku.
“kaka duduk saja dulu, sebentar lagi mereka pulang. ibuku seorang buruh cuci dan biasanya ia mengantakan makanan untuk kami di sela-sela istirahatnya. kaka pasti laparkan, tenang saja. Ibuku pasti membawa makanan yang banyak untuk kami,” ucapnya dengan sorot mata penuh cemas.
“sedangkan ayahmu?,” tanyaku kembali.
“ayahku pulang larut malam bahkan saat fajar ia baru pulang ia seorang pembersih kota dan biasanya setelah itu ia menyiapkan koran-koran untuk di bagikan kepada toko-toko kecil untuk di jualnya kembali sedangkan paginya ia harus kembali lagi bekerja sebagai pembersih kota. Hanya punya waktu sedikit bahkan tidak sama sekali untuk bertemu dengan kami, namun di sela-sela istirahatnya ia sama seperti ibuku sering mengantarkan makanan untuk kami walaupun tak sesering ibu,” ucapnya.
“eman, eva, badrun ayo makan, ibu bawa makanan,” teriak seseorang di luar sana.
“nah itu ibu datang ka,” ucapnya menegaskan kepadaku.
Tak lama kemudian ke dua anak yang tadi tengah asik dengan kegiatannya tersebut berlomba-lomba menghampiri sumber suara tersebut.
“aku mau, aku mau, ini punyaku,” ucap salah satu dari mereka. Kemudian yang lainnyapun membalas celotehannya. “dan ini pasti punyaku, aku yang banyak yaa,” teriak salah satu dari mereka. “iya-iya semuanya dapat,” ucap seorang ibu terhadap anak-anaknya.
“eman siapa yang kau bawa masuk,” teriak salah seorang ibu terhadapnya. 
“bukan siapa-siapa ko bu, iya sangat baik terhadap kami, ibu tak usah kawatir ia hanya ingin mengenal kita secara lebih dekat,” ucapnya. “namanya ka wira,” tambahnya.
Sang ibu menatapku, tatapannya seperti menaruh curiga terhadapku “tenang-tenang bu aku tak bermaksud jahat, aku hanya ingin mengenal kalian secara lebih dekat” ucapku.
“baiklah-baiklah silakan di makan nak wira,” dengan nada yang begitu ramah. “man maman apakah kau sudah memberikan ka wira minum,” teriak sang ibu terhadapnya.
“oh iya aku lupa ibu,” teriaknya dari dapur rumahnya
“kalau begitu cepat ambilkan minum,” teriak sang ibu “baiklah-baiklah,” balasnya.
Tak lama berselang maman membawa segelas minuman beserta beberapa makanan yang belum sempat di keluarkannya. “silakan di makan ka,” ucapnya.
“baiklah terimakasih,” ucapku. “sudah berapa lama ibu tinggal di tempat ini,” ucapku dengan mengawali percakapan ku terhadap sang ibu.
“sudah lama sekali nak,  bahkan tak ada yang bisa kami tinggali selain di tempat ini, orang-orang mulai sibuk membangun gedung-gedung tinggi namun kami tak di pikirkannya,” ucapnya dengan nada yang berat.
“seperti itulah memang ketika mereka merasa sudah puas, mana pernah mereka memperhatikan kembali masa-masa sulitnya. Sampai akhirnya musibah menimpanya kembali baru mereka sadar akan keterbatasan dan kekurangannya.”

Thursday, 6 January 2011

LAUDRIC


Laudric adalah seorang pengrajin kayu di tempatnya meskipun ia seorang lulusan sarjana geografi namun tak sekalipun ia merasa rendah dengan apa yang di jalaninya. hingga akirnya ia menikah dengan dimitrif anak dari seorang tuan tanah yang juga sebagai pengrajin kayu di tempatnya, dari hasil pernikahannya laudric memiliki satu orang anak dan kini usahanyapun semakin meroket hingga akhirnya ia menjadi pengusaha pengrajin kayu dan memiliki beberapa anak cabang dari usahanya tersebut tak jarang masyarakat setempat menggantungkan hidupnya dari usaha laudric yang dirintisnya dari awal. walaupun sudah menjadi tuan tanah di tempatnya ia tak lupa kepada orang-orang di sekitarnya, karna baginya tak ada kata tidak untuknya membantu masyarakat yang tak mampu di lingkungan desanya entah mulai dari pendanaan kebersihan, keamanan, kesehatan dan juga yang sifatnya pribadi tak segan-segan ia memberikannya, hingga pernah suatu saat lingkungan tempat tinggalnya membutuhkan dana untuk membangun rumah pribadatan dan iapun berada di garis depan dalam upaya mewujudkan keinginan masyarakat setempat.

namun sesuatu yang tak di inginkan terjadi pada keluarganya, seluruh kekayaanya yang selama ini ia proleh dengan susah payah satu persatu meninggalkannya, tak banyak yang iya dapatkan selain untuk menyewa tempat tinggal dan kebutuhan makan selama setahun, dan ia pun memutuskan hijrah dari tempatnya dengan membawa istrinya dan satu anaknya menyewa tempat tinggal dan memikirkan apa yang ia nantinya lakukan ketika keadan tak lagi dapat di tolerir. pada suau malam iapun berkata ke pada dimitrif dalam suasana duka batinnyapun merintih ketika ia mulai mengucapkannya,
"apakah kau masih setia dengan keadaanku yang seperti ini, jika iya katakan iya dan jika tidak itupun bukan kemauanku," ucapnya
"tentunya kau tau 32 tahun kita bersama apakah kau membayar kebahagian yang terjalin salama itu hanya dengan materi, tidakkah kau ingat siapa kau dulu, kau melamarku tidak dengan materi melimpah ruah, tidak kah kau ingat itu."
"sial menyesal aku dengan semua itu," ucap di mitrif dengan penuh sesal.
"kalo memang begitu haruskah aku meminta kembali semua yang sudah hilang untuk mendapatkan kebahagian yang kau katakan itu, laudric," tambahnya.
"sial terlalu bodoh aku ini!!, aku menganggap rendah dirimu, ku kira kau sama dengan yang lainnya, tinggalkan saja aku ini, kau terlalu berharga untukku dimitrif."
"maksudmu apa dengan yang lainnya?!"
"apakah tak cukup lama kau mengenalku, apakah sebelumnya kita tak saling kenal sebelum kau mengikiarkan janji suci itu?!"
"kau mmpermainkan tuhan laudric, lagi-lagi aku menyesal denganmu laudric."
"sudahlah dimitrif aku memang tak pantas untuk mu," laudric menghentikan percakapan itu dan meninggalkan dimitrif yang tengah terduduk di kursi bambu itu.
                                              
“Apa yang aku ucapkan saat itu, pantaskah kata-kata itu keluar di saat itu, dengan situasi yang seperti itu,” pikirnya. kemudian laudric membuka knop pintu rumahnya dan menutup rapat kembali secara berlahan. ia berjalan dengan ataupun tanpa tujuan, yang terfikirkan hanyalah ucapan-ucapan yang di katakan dimitrif. "haruskah aku menjadi orang yang berdosa seperti ini yaa tuhan, rasanya itu bukan aku," pikirnya. "apa yang harus aku lakukan untuk mereka, istriku dan anakku.", "mungkin mereka saat ini menerima atas keadaanku, tapi apalah nanti apakah aku harus membiarkan mereka hidup dalam penderitaan yang aku alami. berdosa sekali aku ini ya tuhanku." ucapnya dengan penuh sesal. seketika air matapun mengalir dari kedua matanya yang tampak teduh itu. saat itu di angkatnya tangan-tangannya yang bergemetar dan tak menau itu disibakannya tetesan-tetesan air mata yang mulai membasahi sekitar kelopak matanya yang damai itu saat itu hatinya bener-benar gundah, nyalanya cahaya lampu jalan di setiap ruas menyamarkan setiap masalah yang di alaminya.

setelah peristiwa tersebut laudric lebih banyak menghabiskan waktunya dengan keluarga dan memperdalam kereligiusannya, jika ketika harta melimpa yang ia pikirkan berhati-hati dalam mempertahanka, dan bagaimana untuk mendapatkan kekayaan, namun kini yang dipikirkannya hanyalah apa yg saat ini bisa kami lakukan untuk keluarga, apa yang bisa kami lakukan untuk orang banyak dan tak ada kecurigaan yang terlintas dari pikirannya semua menjadi sebuah kesatuan, pernah  ketika itu seseorang pekerja yang pernah bekerja dengannya mengunjunginya dan mempertanyakan masalah yang di alaminya, laudric hanya berkata setiap masalah adalah sebuah proses dan proses itu akan hilang dengan sendirinya, tuhan tidak tidur dia tau apa yang kita butuhkan. dan ini, aku sudah melakukan proses yang tuhan inginkan, tak ada penyesalan dan tak ada yang harus di salahkan ucapnya. dan ketika di tanyakan apa yang akan di lakukannya nanti, ia pun hanya berkata apapun yang akan ku lakukan nanti tuhan lebih tau, aku tak ingin menuntutnya akupun tak ingin mendahuluinya aku tak ingin menghentikan proses yang tengah berjalan saat ini. Bagiku ini sudah lebih dari cukup, tak ada lagi kecurigaan tak ada lagi kesombongan dan tak ada lagi kemunafikan yang mungkin pernah kulakukaan pada masa-masa itu, dan akupun kini dapat bernafas lega kutanggalkan segala atribut gelar dan juga kehormatan identitasku kini akupun sama bagian di antara 233 juta orang lainnya, hidup dalam keterbatsan dan juga pengharapan, tak adalagi kata tuan, saudagar kini kitapun sama dan inilah aku  laudric ucapnya.

Sunday, 12 December 2010

dashboard confessional - belle of the boulevard

Down in a local bar
Out on the boulevard
The sound of an old guitar
Is saving you from sinking
It’s a long way down
It’s a long way

Back like you never broke
You tell a dirty joke
He touches your leg and thinks he’s getting close
For now you let him just this once
Just for now
And just like that – it’s over

[Chorus:]
Don’t turn away
Dry your eyes, dry your eyes
Don’t be afraid
Keep it all inside, all inside
When you fall apart
Dry your eyes, dry your eyes
Life is always hard for the belle of the boulevard

In all your silver rings
And all your silken things
That song you softly sing – is keeping you from breaking
It’s a long way down
It’s a long way
Back here you never loved
You’ve shaked the shivers off
You take a drink to get your courage up
Can you believe it
Just this once
Just for now
And just like that
It’s over

[Chorus]

Please hold on – it’s alright
Please hold on – it’s alright
Please hold on

Down in a local bar
Out on the boulevard
The sound of an old guitar
Is saving you
[Chorus x2]

GARUDA DI DADAKU


GARUDA DI DADAKU, GARUDA KEBANGGAANKU KU YAKIN HARI INI PASTI MENANG…
Belum lama ini puluhan ribu penonton di seantero indonesia tak henti-hentinya melantunkan lagu-lagu yang bertemakan nasionalisme karna timnas sepak bola kita berhasil melumat habis timnas sepak bola malaysia yang sarat akan emosional dengan skors 5 – 1 dan di pertandingan berikutnya timnas sepak bola kita juga berhasil mencukur habis tamunya laos dengan skors 6 – 0 tanpa balas, apakah ini titik balik kebangkitan sepak bola kita yang sempat mereda semasa era bimasakti dulu
Jawabannya hanya bisa kita lihat nanti ketika indonesia berhasil merebut tahta kejayaan thailand, singapura dan juga vietnam yang lebih dulu pernah merasakan yuforia kemenangan timnya dalam merebut piala ASEAN yang kini berganti nama menjadi AFF cup.
Ada sebuah tanda tanya besar apakah ini akan menjadi tolak ukur dalam kepemimpinan PSIS dalam keseriusannya mengembangkan sepak bola tanah air yang haus akan kemenangan atau malah menjadi bumerang ketika kemenangan menjadikan PSIS merasa puas menjadikan indonesia sebagai penguasa regional asia tenggara. Kita tentunya ingin lebih jawabnya, kemenangan ini adalah kemenangan bersama  kado manis untuk masyarakat kita yang tengah berduka ketika bencana silih berganti menimpa ibu pertiwi, maka juara menjadi harga mati bagi PSIS saat ini.
Adapun kemenangan besar timnas sepak bola indonesia dalam melumat habis timnasional sepak bola malaysia merupakan ajang pembuktian dan juga ajang penuh gengsi dalam menunjukan kelasnya dan benar saja ternyata gol gonzalez, irfan bachdim dan m ridwan dan arif suyono menjawab kecemasan publik, timnas kita berhasil menyoyak harga diri timnas malaysia dengan skor telak 5 – 1 dan ketika naturalisasi pemain merupakan kunci dari sekian keberhasilan timnas maka janganlah kita lupa akan para pribumi-pribumi lokal yang memilik peranan penting pula dalam meraih 3 angka secara penuh dalam setiap laga pertandingan yang di lakoni sang garuda 

Monday, 29 November 2010

NIKOLSKOVE


Kadang cinta terasa rumit untuk di mengerti ketika kau belajar untuk mencintai, dengan tidak sengaja kau telah siap untuk tersakiti, banyak ragam yang kau temukan di sana terasa rumit jika tak kau temukan namun tampak mudah ketika kau mendapatkannya

Setidaknya itu yang pernah kualami, waktu itu, waktu aku masih teramat muda untuk mengenal cinta
“aku ingat peristiwa itu sulit untuk kulupakan tak banyak yang bisa aku ceritakan, peristiwa itu terlalu panjang untuk kuceritakan.”
“kalau begitu ceritakanlah,” ucap salah satu dari mereka.
aku terdiam sesaat menghela nafas seakan mempertimbangkan kembali ucapan mereka, “baiklah peristiwa itu kualami ketika jamuan makan dan pesta dansa para saudagar kaya tengah berlangsung, ketika rasa cinta tak pernah kutemukan sebelumnya. Waktu itu umurku 20 tahun dan ketika pertama kalinya kubertemu umurnya menginjak 18 tahun ia begitu cantik, matanya teduh ketika ku menatapnya, ia tersenyum damai layaknya putri bangsawan lainnya, ia begitu sempurna di mataku,” ucapku dengan sorot mata yang menerawang jauh.
“kau pasti berusaha mendekatinya?,” ucap salah satu dari mereka.
“memang, entah mengapa aku begitu tertarik dengannya, namun mulai kupertimbangkan kembali setidaknya yang saat itu kurasakan, kaupun sebenarnya tau dan bertanya-tanya tak mungkin aku mendekatinya, ia seorang putri bangsawan, dan tentunya orang tuanyapun sudah mencarikan seorang pasangan yang sama bangsawannya dengannya. Tak mungkin aku di pilihnya.”
“lalu apa yang saat itu kau lakukan?,”  ucap kembali salah satu dari mereka.
“tak banyak yang saat itu bisa kulakukan selain menatap matanya yang teduh itu. Namun entah mengapa tuan dutscha menghampiriku dan memintaku untuk mengantarkan larissa yang tengah mabuk karna terlalu banyak meminum champagne,” ucapku.
“lalu apa yang kau lakukan dengannya?,” ucap kembali salah satu dari mereka.
“kau mengira aku melakukan sesuatu hal yang bodoh  dengannya, kau salah besar kawan justru tak kusangka ia melakukan sesuatu yang serendah itu di hadapanku?,” ucapku dengan sorot mata dan nada yang penuh kecewa.
“bodoh sekali kau ini, bisa saja kau melakukan sesuatu dengannya setidaknya itu yang pria ingin lakukan dengannya,” teriak mereka dengan penuh kecewa.
“kau tau betul aku sangat menjaga ke hormatan wanita.”
Ya pantas saja kau tak pernah mendapatkan pasangan nick, dari pertama ku kenal kau hingga saat ini, kau tak pernah berubah soal cinta,” ucap mereka.
“kau sebut itu cinta kawan!, apakah tak ada sesuatu yang lebih baik dari hanya sekedar merusak kehormatan lawan jenismu!,” ucapku dengan sorot mata dan nada yang tegas.
“baiklah-baiklah, aku mengerti, lanjutkan ceritamu kawan,” merekapun kembali mempertanyakan apa yang tengah ku alami dengan larissa.
“sepanjang perjalanan iya selalu saja menggodaku dengan pertanyaan-pertanyaannya, menanyakan latar belakangku, asalku, tempat tinggalku, namaku dan statusku. Namun tak satupun pertanyaannya kujawab, hingga sampainya aku. Kemudian kupapah tubuhnya yang gontai tak berdaya itu, lalu kubawanya masuk, kurebakan tubuhnya dan kubetulkan letak lehernya kemudian kuselimutkan ia di antara kain halus dan kutinggalkan ia sendiri di sofa itu, sofa mewah berukuran besar itu.”
“ketika ku masuk kamarku, waktu mulai fajar, matahari mulai terbit memancarkan cahayanya, kulepas mantelku kurebakan tubuhku, kuterawang mimpiku namun makin kesini sulit bagiku memejamkan mataku. Aku benar-benar memikirkan larissa, bayangan matanya yang teduh dan senyumnya yang damai itu tak dapat lepas dari ingatanku, makin kesini  rasanya sulit bagiku untuk tidur, aku benar-benar jatuh cinta dengannya. Tak kusangka pertemuan malam itu benar-benar menguras perhatianku. Setidaknya ketika ku mengingat dan kembali memikirkan kebangsawanannya, rasanya itu tak mungkin. Aku hanyalah seorang supir dari seorang bangsawan kaya yang bernama dutscha, ia begitu sempurna di mata orang lain, senyumnya pesonanya mengingatkanku pada sebuah kedamaian yang belum pernah kutemukan sebelumku mengenalnya,” aku terdiam sesaat menghela nafas, kemudian tertunduk lemas denga sorot mata yang menerawang jauh namun penuh dengan kesedihan. Sempat tak kulanjutkan, namun..
“akhirnya kuputuskan meninggalkan kamarku, kubuka knop pintu  kamarku, kemudian kututupnya kembali secara berlahan. Hari ini adalah musim semi, pohon-pohon tengah asiknya melakukan transisi dalam kehidupannya setidaknya itu yang seharusnya kulakukan saat ini, namun tak banyak yang dapat kulakukan hingga saat ini. Ku ayunkan kakiku ke sebuah tempat yang tak pernah kufikirkan sebelumnya, di situ di pinggir ruas jalan, orang-orang tengah asiknya merapikan lapak dagangannya sebagian lagi bahkan sudah mulai menjajakan dagangannya, anak-anak kecil dan para orang tua mulai bersiap-siap melakukan aktifitasnya, dan para ibu-ibu mulai mempersiapkan menu hidangan untuk buah hati dan para suami mereka sebagian lagi bahkan tengah menikmati tidur singkat mereka sehabis patrol tadi malam. Ku hentikan langkah kakiku di tepian kanal, gemericik aliran air di pagi hari begitu tenangnya, sempat kuberfikir jika larissa menginginkan hal yang sama denganku, aku akan membawanya pergi dari perbatasan, tapi itu hal yang mustahil pikirku kembali. lalu apa yang larissa lakukan tadi malam bukanlah sesuatu yang teramat buruk setidaknya itu yang di alami oleh para putri bangsawan lainnya, mereka menganggap champagne sebagai solusi tepat untuk menenangkan diri dari kebangsawanannya, itulah sebabnya mereka begitu seringnya menikmati champagne secara menerus.”
“lalu apa yang kau rencanakan selanjutnya, kelihatannya kau sangat mencintainya nick,” ucap salah satu dari mereka.
“seperti yang sudah kukatakan, andai saja ia mau melakukan hal yang sama dengan apa yang telah kurasakan dengannya, aku akan membawanya pergi dan itu tentunya bukanlah sesuatu yang mungkin terjadi,” ucapku terhadap yang lainnya.
“apakah kau sudah mengatakannya?, dan kau saja belum mengataknnya, bagaimana ia tau perasaanmu nick”, tanya mereka kembali.
“saai itu, saat di mana tak mungkin kulupakan, aku sadar siapa aku dan dengan siapa aku berhadap, ini sebuah pilihan dan itu sulit untuk kuputuskan, ketika kumulai belajar mengenal cinta, kau di hadapkan dengan situasi yang tak ingin kau rasakan, layaknya sutradara kau yang tentukan, dan ini adalah takdirku aku tak menyesal pernah bertemu dengannya meskipun aku tau, aku tak pantas untuknya. di situ, di tempat itu kulihat seorang anak tengah asiknya merawat hewan peliharaanya, ke lihatannya ia begitu menyayanginya, memandikannya, dan membersihkan setiap kotoran di kandang-kandangnya, namun entah mengapa ia menangis, kucoba cari tahu lalu kudekatinya dan ia hanya berkata aku telah melukainya, aku telah melukainya kini ia tidak dapat menggerakan kakinya aku telah melukainya aku telah melukainya. Ia terus saja menyesali perbuatannya dan ini sama halnya ketika kucoba untuk mendekati larissa ada konsekuensi logis yang harus kupertanggung jawabkan dengannya, aku ingin memilikinya, namun dengan tidak sengaja aku telah menyakiti hati larissa. Dan ketika kau mengambil hikmah dari peristiwa anak yang menangis tersebut kau tau betul setidaknya ia begitu menyayangi hewannya namun ia telah merusak kebahagian hewan tersebut dengan memutuskan kehidupannya dari habitat aslinya, dan ketika kau semakin keras berusaha memilikinya semakin keras pula kau belajar untuk kehilangannya bahkan untuk sebuah alasan yang belum pernah terjadi,” ucapku dengan nada yang berat dan berusaha melupakan.
Lalu kuterdiam sejenak, kuhela nafas dan kuhembuskan secara teratur, mataku terus saja menerawang jauh, mencoba mengingat kembali masa itu, masa di mana pertama kalinya ku bertemu dengannya, namun entah mengapa setiap kali kuingat, aku tertunduk lemas, ada penyesalan yang teramat dalam yang membuat pikiranku kian hari kian sulit untuk melupakannya. Kuhentikan percakapanku kemudian kutinggalkan mereka di situ di tempat itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat kujawabnya.

Sudah 8 tahun lamanya aku tak bertemu dengannya ia tak berubah, sorot matanya, senyumnya masih memancarkan pesona tersendiri bagiku, “kami saling terdiam, tak ada yang memulai berkata, terdiam saling menerka, menerawang jauh mengingat kembali masa-masa itu. Kuhela nafas panjang-panjang kuhembuskan secara teratur, lagi dan lagi. Kutundukan kepalaku sejenak, kurenungkan dan kunaikan kembali, otaku terus berfikir menyaring setiap kata yang akan kuucap kususun sedikitnya kata demi kata menjadi sebuah kalimat.
“kau tak berubah larissa sejak pertemuan itu, sejak jamuan makan dan pesta dansa tengah berlangsung malam itu, sayang keterbatasan yang kumiliki tak mampu menanggalkan segala atribut kebangsawananmu, dan kaupun kini memilih bersamanya,” ucapku dengannya dengan nada berat dan penuh sesal.
ia terdiam sejenak menghela nafasnya dan menerawang jauh kemudian menghembuskannya, tertunduk sejenak kemudian..
“dan oleh sebab itu kau tak mampu mengatakannya, sulit rasanya memang. tak bisa di tebak, tak ada yang mengaku tak ada mencari tau kau sibuk dengan masalahmu aku sibuk dengan kebangsawananku, aku tau siapa kau nick setidaknya setelah kau mengantarkanku sehabis pesta dansa dan jamuan makan tengah berlangsung, malam itu aku yang memintanya, meminta tuan dutcha untuk kau mengantarkanku.” Aku terdiam kuangkatnya kedua tanganku, kubasuhnya mukaku sampai tengkukku, kemudian kukepalkan tanganku dan kutopangkan daguku kurenungkan kembali setiap kata demi kata yang di ucapkan larissa.
Namun tiba-tiba entah mengapa larissa mengucapkan sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya, kata-kata yang tak pernah ku pikirkan, entahlah apakah hanya spontanitas atau iya sedang larut dalam suasana yang di alaminya tapi ini benar-benar membuatku merasa bersalah.
“kenapa kau menghilang saat itu, kenapa kau tak membimbingku saat aku membutuhkan pertolonganmu, kenapa semua yang begitu ku anggap penting tak pernah ada untukku,” ucapnya.
“apa yang sebebenarnya terjadi?,” tambahnya.
“apa maksudmu larissa, aku benar-benar tak mengerti,” ucapku dengan nada penuh tanya.
“entahlah, aku begitu kehilangan sisi religiusku aku tak mengerti semua ini. saat pertemuan malam itu aku berfikir kau orang yang dapat menuntunku nick, kau tak pernah mengerti itu, itu sebabnya kau selalu mencari alasan atas keterbatasanmu,” ucapnya dengan nada yang semakin menurun seperti hendak melakukan pengakuan.
“kau tak akan pernah mengerti larissa, itu sebabnya aku berusaha menjauh darimu,” ucapku.
“dan kukira itu mudah, namun tak kusangka semakin jauh ku melupakanmu semakin ku teringat akan bayang-bayangmu larissa”.
“wanita memang seperti itu aku tak berhak melarangmu, aku tak punya kedudukan atas dirimu kau sudah terlanjur menikmatinya hingga kau lupa akan rasa cintamu, kau telalu banyak menimbang tak mengerti dan hanya sedikit menghargai cinta.” Tambahku dengan nada yang berat.
“lalu kenapa lagi-lagi kau tak mengatakannya, dan kau menghilang ketika itu nick, kau membiarkanku sendiri nick.” Ucap larissa dengan tertatih.
“percuma kau tak akan mendengarkanku larissa, karnanya kubiarkan kau sampai mengerti dan menyadarinya sendiri,” ucapku.
“andai saja waktu it…,” ku hentikan percakapannya dan kulanjutkannya
“it..u kau tak memilihnya mungkin aku akan mengatakannya walaupun hukuman akan menantiku di meja pengadilan dan kaupun menolaknya, memang itulah sebuah pilihan ada konsekuensi di balik sebuah pilihan. Terus terang ini bukan diriku, terlalu singkat untukku putuskan, dan aku tak ingin melukaimu, ada waktunya aku akan mengatakannya dan cinta itu akan kutunjukan kasih itupun akan ku buktikan meski aku tau kaupun menolaknya namun semua itu tak dapat kau tampikan dari kehidupanmu, itulah sebuah keterbatasan dan inilah aku, maafkan aku larissa aku hanya tak ingin melukaimu walaupun aku sangat menyanyangimu setidaknya yang saat itu ku rasakan padamu,” ucapku kepadanya. Kemudian seorang anak berlari menghampirinya dan iapun memeluknya.
“ia cantik, ucapku. matanya sama sepertimu mungkin kelak dia akan menjadi gadis yang cantik sama sepertimu larissa, siapa namanya?,” tanyaku.
“clarra, clarra revalisa ariza,” ucapnya dengan nada yang mantap
“sebuah nama yang indah, untuk kesekian kalinya aku melihatnya ia sangat periang, mungkin setiap kali aku coba mengingat dan melihatnya aku menangis, semoga kau menemukan sesuatu yang lebih baik dari ini larissa, dan kelihatannya kaupun sangat bahagia, aku takingin mengusikmu,” ucapku.
kutengok kepalaku dan kutatap ia begitu riangnya iapun melakukan hal yang sama denganku kami saling menatap, ini untuk kesekian kalinya aku bener-bener menatap matanya secara penuh aku merasakan pesona matanya menyentuh perasaanku dan merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan dari dirinya sejak malam pesta dansa dan jamuan makan itu. Ku beranjak dari tempat duduku kemudian kutinggalkan ia dengan sejuta masalah yang menjadi pertanyaan besar dari akhir sebuah cerita.

SUMPAH DI BALIK SETIA PEMUDA


Sumpah Pemuda
“Beri aku sepuluh pemuda maka akan ku goyahkan dunia, jika ada sembilan pemuda lagi, maka indonesia pasti berubah”
kata-kata soekarno yang mempengaruhi pergerakan pemuda pada saat bangsa ini tengah dalam kerisis kepercayaan diri oleh masuknya paham kolonialisme di negri ini, itulah pemuda katanya.
Pemuda, pemuda adalah roda pergerak reformasi pemuda pulalah yang melahirkan kaum refolusioner tak hanya itu pemudalah bukti otentik bahwa 28 oktober indonesia di lahirkan yang kemudian untuk pertama kalinyalah lagu ciptaan W.R Soepratman di alunkan di negri ini, Indonesia Raya.
Pemuda sama halnya dengan perubahan, perubahan secara struktural dan mendasar secara birokrat maupun dalam segi nonbirokrat. Dewasalah kita apabila negara ini memiliki pemuda-pemuda seperti tahun 1928 yang menyatakan satu tanah air satu indonesia, berbangsa satu bangsa indonesia dan berbahasa satu bahasa indonesia. Pemudalah pondasi bangsa ini, amat sangat penting ketika kita kembali menghayati, dan memahami sumpah pemuda di tengah krisis kepercayaan diri  yang tengah kita alami saat ini, apabila perayaan sumpah pemuda hanya di isi oleh pidato para tokoh yang tak bermakna, kosong tak berarti, maka kaum reaksionerlah yang seharusnya turun karna tak mampu menanggalkan atribut orde baru, karna tak mampu, memahami isi sumpah pemuda yang tak dapat di pisahkan dari perjuangan kaum revolusioner bungkarno.
Namun kini obor api kerevolusioneran pemuda mulai padam oleh karna politik “de-sukarnoisasi” dan anti komunis yang di lancarkan oleh para pendukung orde baru kian melekat di tambah intervensi budaya asing yang mudah masuk ketika demokrasi mulai di salah gunakan dalam kepentingan parpol.
Adalah sudah waktunya sekarang kita para pemuda revolusioner yang memeriksa kembali berbagai aspek tentang lahirnya sumpah pemuda yang mulai padam dari para orang-orang reaksioner yang ingin memecah belahkan idiologi pancasaila Dan ke bineka tunggal ikaan yang sudah melekat dan memerdekakan Indonesia selama ini.
Tak hanya kemauan dan pemahaman yang kuat tentang para tokoh di balik lahirnya sumpah pemuda, pemuda harus pula perperan penting dalam membangun kepribadian bangsa dalam setiap regenarasinya yang tak lepas dari sejarah yang sudah ada dengan bersama-sama menggabungkan satu visi misi antara LSM, partai politik, organisasi-organisasi pemuda, mahasiswa, serikat buruh, tani dan perempuan dalam mencapai Indonesia yang satu, berdaulat, adil, dan makmur.
Arti penting sumpah pemuda
Bangsa kita adalah bangsa multikultur dengan berbagai macam aspek yang dapat terkonfrontasi dari pihak-pihak asing, menggalangkan satu visi misi merupakan tujuan yang mendasar dan bersifat hakiki oleh sebab itu perlu seyogyanya merangkul Ibu pertiwi dalam segala aspek  kultur, budaya, agama dalam satu ikatan ke bineka tunggal ikaan yang tak lepas dari sumpah pemuda. Maka nyatalah sumpah pemuda sebagai pondasi penting dalam memerdekaan ibu pertiwi di tengah konfrontasi politik , militer, maupun ekonomi budaya asing.
Perlunyalah kita ingat akan peristiwa yang mengawali kemerdekaan Indonesia sebagai manisfestasi yang kuat akan hasrat memerdekakan bangsa dari segala bentuk atribut tentang kolonialisme dan liberalisme yang melekat jauh sebelum  perjanjian yang menyatakan Indonesia adalah satu. Dan mereka-mereka ini adalah tunas-tunas bangsa yang akan menggantikan pergerakan soekarno dalam ambisinya memerdekakan ibu pertiwi secara regenerasi. Maka jelaslah sumpah pemuda sebagai kontrak-politik dari berbagai suku bangsa tanah air yang bersifat konkret untuk mencapai tujuan yang hakiki dalam artian kemerdekaan itu sendiri bukan campur tangan asing, bukan pula pinjaman manisvestasi pihak asing bukan pula sebagai demokrasi kebarat-baratan yang mengenal family regering  menyatakan jabatan bersifat kekeluargaan dan bukan pula paham fasisme menyatakan pemerintah berpusat dari satu partai, bukan, bukan itu yang di inginkan dari lahirnya sumpah pemuda melainkan pemerintahan yang menyatakan darirakyat untuk rakyat, negara republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik suatu suku, dan bukan pula milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari sabang sampai marauke demikianlah pidato yang lontarkan soekarno pada tanggal 24 september 1955 di Surabaya.
Namun nyatanya kini sumpah pemuda tak lagi menyala, tak bekobar situasi mulai terlupakan kala para pemuda berhasil menarik kembali pasukan blanda – jepang ke negrinya. Pemuda tak lagi memikirkan bangsanya, pancasila mulai terlecehkan ajaran bungkarno telah terlupakan, dan paham-paham idiologi asing mulai menjamur di antara sekian juta pemuda ibu pertiwi, pancasila bukanlah sebagai roh pegangan idiologi Negara melainkan seonggok barang tua yang di tinggalkan si pemiliknya dan di abaikannya. padahal di lihat dari sejarahnya sumpah pemuda di buat bersama-sama dengan ambisi dan fundamentalis yang khidmat dan mengacu pada kerakyatan yang adil dan makmur karna itulah sudah seyogyanya kita kembali lagi kepada sejarah yang sudah ada dan soekarnopun meyatakan dalam pidatonya jangan sekali-kali meninggalkan  sejarah sejarah adalah pondasi yang tak bisa di pisahkan dari sebuah peristiwa di belakangnya karna itu ketika sumpah pemuda mulai di lupakan dari sejarah awal terciptanya maka siap-siaplah kita mengalami berbagai macam disintegrasi yang dapat menggoyahkan persatuan dan kedaulatan NKRI oleh karna kita tak mampu memacu kembali rasa kebersamaan yang terkandung di dalamnya dan menganggap situasi sumpah pemuda sebagai sesuatu yang hambar dan bukanlah sebagai prodak pemersatu bangsa yang dulu pernah menyala.
Apalah artinya sebuah bangsa tanpa adanya pemuda-pemuda yang haus akan kemerdekaan yang bersifat hakiki, entah dari bangsa kecil manapun ketika pemudanya mulai mengirarkan janji setia sehidup semati maka bangsa itu telah masak sebagai bangsa yang berdaulat. seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia itu yang di gambarkan soekarno tentang arti sebuah pemuda dalam pidatonya.
Pantaslah kita sebagai pemuda menggalangkan kembali ajaran-ajaran yang menyatakan Indonesia adalah kita dari kita dan untuk kita dengan secara bersama-sama kembali menghayati makna di balik sumpah setia para pemuda yang telah merubah setiap detik, menitnya sejarah yang terlahir dengan menjadikan Indonesia mandiri secara ekonomi, politik, maupun militer. Dan kita tentunya semua, akan menjadikan setiap regenerasinya menjadi sebuah sejarah yang akan kembali terlahir dari sebuah aspek yang sama tanpa meninggalkan tinta merah dari sebuah peritiwa yang sudah ada.