Friday, 22 October 2010

ITU AKU!

kau katakan aku pecundang
kau katakan aku pengecut
itu aku, kau katakan
kau katakan aku tak layak
kau katakan aku tak pantas
itu aku, kau katakan
dan aku katakan...
itu aku, dulu
dan kini...
aku tak seperti yang kau katakan
aku punya cita-cita
aku punya masa depan
itupun aku yang katakan
saat itu aku katakan...
dan kaupun mengatakan...
ITU AKU!!

Friday, 15 October 2010

SAMA HALNYA, TAK BERARTI!

SAMA HALNYA, TAK BERARTI!

Tadi, kemarin, besok ataupun lusa sama saja bagiku tak ada sesuatu yang dapat mengembalikannya. Tak adanyapun tak mempersulit diriku, jatuh bangunku aku yang alami tidak untuknya atapun dirinya, bodohnya aku permasalahkan apa yang tak ada, hingga ku terjerumus di kubangan yang sama, sama-sama lupa, sama-sama tak mengalah, sama-sama egois, sama-sama sadar aku dan dirinyapun melakukan hal yang sama, dan semuanyapun kini sama sekali hal yang seharusnya tidak kita lakukan bersama.

STUDI BANDING ALA ANAK TK

STUDI BANDING ALA ANAK TK

“besok persiapan study tour, tolong di persiapkan apa saja yang akan di bawa untuk keperluan putra-putrinya besok bagi para orang tua yang mengawasi putra-putrinya”, ucap salah satu guru terhadap orang tua murid yang menghadiri rapat tersebut.

Sepenggal wacana tersebut tak ubah bedanya dengan para anggota dewan kita yang tengah asik membahas studi banding yang sekarang tengah hangat-hangatnya menjadi polemik publik. di samping menghabiskan dana yang tidak sedikit, di sisi lain banyaknya intervensi asing yang mempengaruhi stabilitas perekonomian, negara juga di hebohkan oleh segelintir oknum-oknum yang ingin menguasa negara dengan caranya. padahal kalau kita tarik dari sudut yang berbeda banyak polemik-polemik yang berkembang di tengah masyarakat saat ini “hasil pengeluaran taksesuai dengan hasil yang di dapat”, ketika anak mulai mendengarkana kata study tour dari gurunya yang terpikirkan mungkin gambarana-gambaran yang sifatnya menyenangkan dalam konteks “bersenang-senang”, bersenang-senang di sini bukannya hanya apa yang bisa di dapatkan dari hasil pengamatan. terlebih, dari itu semua melainkan apa yang bisa di beli dan apa saja yang bisa di lakukan sesampainya di sana, semakin menarik tempat yang akan di kunjunginya semakin menyenangkan pula kepuasaan yang di dapatkannya. Sama halnya ketika anggota dewan melakukan agenda studi banding tak ubahnya seorang anak-anak TK yang kegirangan ketika di sahkannya agenda tersebut dalam rapat paripurna. Tempat merupakan ajang gengsi bagi para anggota dewan, kan tidak lucu apabila studi banding ke luar negri hanya sebatas negara tetangga terlebih dengan banyaknya isu dan polemik yang tengah berkembang di masyarakat di samping telalu singkat, kepuasaan yang di peroleh tak sebanding dengan agenda yang tentunya menjadi tujuan utamanya (bersenang-senang) jadi tempat eksotislah pilihannya. Studi banding bukanlah sesuatu yang salah dan biasa saja, sah-sah saja ketika anggota dewan melakukan perbandingan dan di terapkan sebagai ajang memperbaiki bangsa, tapi ketika membelot dari agenda yang sudah di tentukan ini bukanlaha hal yang biasa. Nyatanya banyak kita dengar studi banding hanya di jadikan sebagai banding membandingkan harga, tak lucu rasanya apa bila anggaran yang di keluarkan oleh rakyat hanya di jadikan ajang untuk hepi-hepi sampai-sampai pulang dengan tangan kosong (belanja) apa lagi ada penyuapan di dalamnya, mungkin saja istilah itu sekarang di samarkan ketika anggota dewan tak di perbolehkan lagi menerima hadiah dalam bentuk apapun dan seketika studi banding di jadikan ajang sebuah nama yang pas untuk mengabu-abukan mata masyarakatn tentang kinerja pemerintahan, hal itu boleh saja di lakukan wong namanya saja studi banding membandingkan suatu tempat dengan tempat yang lebih baik tentunya. namun faktanya di lapangan taksesuai dengan apa yang sudah di agendakan sebelumnya, membanding-bandingkan harga itu mungkin lebi dari sekedar cocok menggambarkan tingkah laku para dewan saat ini. Bagaiman tidak ketika berangkat dengan mebawa aspirasi rakyat namun ketika datang koper-koper yang berisikan lusinan merek dagang menemani kepulangan mereka. Yaa ini kita dan negara kita, urusan menyenangkan rakyat jelas kita nomer satunya sampai-sampai untuk biaya sekolah bagi para tunas bangsa kita saja di abaykannya, orang-orang korup sekalipun saja masih sempat di manjakan di ruang tahanan dengan fasilitas kelas hotel bintang lima, dan belum lama ini disahkannya anggaran pembangunan gedung mewah DPR yang tak kurang 1 trilliun rupiah yang harus di habiskan dan lengkap pula dengan sarana olahraga yang katanya dapat menunjang anggota dewan agar tampak selalu bugar, kalo sudah begitu pastinya tidak kita temui lagi wajah-wajah lesu dari para anggota dewan pada saat rapat paripurna berlangsung yang selama ini acap kali terjadi. lalu di mana 233 juta orang miskin lainnya yang tak dapatkan fasilitas yang sama??, atau mungkin itu hanyalah isapan jempol belaka yang hanya tuhanlah yang tahu seburuk apa ke adaan mereka tanpa pernah kita tahu sebelum kita melihatnya kebelakang dan merasakan apa yang di rasakan kawan kita tersebut, pantaslah kita sebut negara ini kaya wong anggota dewannya saja di danai rakyat untuk sekedar leha-leha ke negri pesohor nan eksotis 233 juta rakyat miskin tentunya hanyalah sebuah tanda tanya besar.

Bersikap Proposional

Sudah waktunya pemerintah bersikap proposional dalam menentukan agendanya, mana yang harus di prioritaskan dan itu harus di nomer satukan, namanya saja prioritas, lucu kalo di nomer duakan apalagi di hiraukan, terlebih ketika hubunganya dengan aspirasi rakyat. jangan gara-gara perjalanan studi banding pramuka ke afrika wakil dewan yang katanya terhormat lupa akan tanggung jawabnya sebagai anggota dewan yang mengemban aspirasi rakyat, hasil merupakan bukti pencapaian yang nyata. Sayangnya budaya berpolitik dinegri ini di katakan proposional apabila sudah sesuai pada kepentingan parpolnya bukan lagi rakyat, dan kini kitapun hanya bisa gigit jari ketika segelintir oknum sudah mulai menerapkannya. dan ketika studi banding sudah di katakan proposional tentunya akan ada pertanggung jawaban yang menghasilkan buktinyata yang harus di terapkan bagi si pelaku, hal ini pulalah yang harus di pertanyakan nantinya jangan giliran di tanya hasil hanya bisa geleng-geleng kepala terlebih saling menuding ketika di minta pertanggung jawabannya. Berkacalah dari pengalaman, ketika hal tersebut di nyatakan tidak efektif apagunanya hal serupa kembali di lakukan terlebih ketika masyarakat tengah di persulit oleh stabilitas perekonomian yang tak kunjung membaik. Kehormatan bukan hanya di lihat dari seberapa mampu pemerintah memfasilitasi para anggotanya melainkan seberapa besar pemerintah mampu memfasilitasi rakyatnya.

Wednesday, 9 June 2010

merdeka dalam menulis!!!

saya ingin menulis, tapi tak sepantasnya saya menulis di sini, di tempat seperti ini dengan situasi seperti ini, ada yang salahkah???, ah mungkin cuman pikiran yang terlintas saja, tak usah pikirkan, cukup dengan 10 menit, oh tidak mungkin lebih, gimana kalo 15 menit, ah tidak juga 20, 25, 30..
mungkin tidak terlihat berarti tapi suatu saat pasti berarti, ok di mulai dari hitungan ke tiga ya, 3, 2,1, dan tunggu ada yang terlupa, pensil, pulpen atau penghapus, awan cerah di luar tak mengganggu, atau perlu sedikit...... saya tidak tahu apa yang harus saya ketik selanjutnya, ok di mulai tapi tulis apa yaaa, mungkin ini saja, saya tidak kerja hari ini, bolos, tapi tidak juga apa yaa?, yaa, sangat mungkin alasannya, ehmmm belum di pikirkan mungkin besok, lusa oh tidak cepat atau lambat mereka pasti bertanya, ya sudahlah tidak usah dipikirkan, lupakan saja, haduh ngantuk, tapi ga ingin tidur, jadi maunya apa??, tidak ingin banyak gerak, cukup duduk dan tenang, apakah sudah 10 menit???, sepertinya belum, Kalo begitu lanjutkan, fokus tapi tidak bisa, harus bisa!!!, jgn galak-galak donk, tangan pegal anj......oh tidak kata-kata kotor tidak penting, ganti dengan yang lain, siaaalllllll, apanya yang sial???, sudah jangn banyak tanya tetap fokus dan akhirnya duaaaarrrr, meledak balonya, merah, tapi sepertinya bukan, mungkin kuning, tapi bukan juga oh ya saya tahu hijau, persis baju yang saya gunakan.. tapi tunggu baju saya berwarna putih, ok kalo begitu hijau kita hapus dan ganti putih, apakah ada yang punya penghapus???, tidak!!!, saya belum pulang hari ini, gimana keadaan rumah. mungkin baik, saya lupa mandi ini, bagaiman bisa lupa yaaa, sudahlah jangan terlalu serius kita santai saja di mulai hari ini, jgn terlalu terburu-buru, oh tidak leher pegel mata sakit, istirahat sejenakkah???, nanti saja belum 10 menit ok kita tunggu yaaa, sampai kapan???, sampai nanti ???, nantinya kapan????. kapan-kapan. haduh cape tapi belum cukup waktu dan belum cukup banyak, ok tiga baris lagi yaaa, atau empat munglkin???, tidak, tidak cukup tiga baris saja!!! OK, sepertinya hampir tiga baris dan waktu hanya sampai 5 menit saja, ya sudah lima menit saja dan jangan teruskan 1,2,3,4,5 sudah lima menit dan waktu berakhir...

Tuesday, 1 June 2010

jalan ketentuan hidup

pada suatu hari, seorang anak bertanya kepada ayahnya karna sang anak merasa dirinya tak lagi mampu bangkit dari hinaan, cacian yang ia terima dari perlakuan teman2nya. ia merasa di asingkan, karna sang anak memiliki kekurangan di bandingkan teman-teman sebayanya, ia seorang yang tak memili lengan yang sempurna di lain sisi ia seorang anak yang memiliki segudang bakat dan talenta yang tak teman-temannya miliki, namun menurutnya hinaan dan cacian temannya-temannya mengalahkan semangat awal yang ia yakini sebelumnya, sebelum ia ingin mengenal apa itu pertemanan, apa itu pergaulan dan apa itu solideritas, kini ia tahu jawabannya dan ia pun menyesali itu. di sela-sela percakapannya dengan ayahnya ia bertanya "apakah ada yang tak lebih penting dari mengurusi harga diri?", ucapnya.sang ayah pun menjawab dengan heran "apa maksudmu nak, tak biasanya kau berkata sedemikian pentingnya?""yaa, apakah seorang yang tak sempurna harus hidup juga dengan ketidak sempurnaannya, dan apakah yang sempurna harus hidup sesempurna mungkin dengan melupakan hakekat tanggung jawabnya sebagai manusia??"."dan tentunya itu bukanlah kehendak kita menjadi orang yang taksempurna", tambahnya.sang ayahpun menegaskan kepada sang anak "kau tahu betapa pentingnya kesempurnaan, dan kau tahu betapa celakanya mereka -yang kau sebut itu.""tapi ada yang tak mereka miliki dari kesempurnaan yang mereka miliki, apakah mereka mersakan ketidak sempurnaan yang kau rasakan, apakah mereka mengenal kesempurnaan yang mereka miliki, tangan, kaki, dan ke dua mata mereka apakah mereka dapat menggunakannya secara serentak, coba kau bayangkan seorang yang di anugrahi ke dua lengan, apakah lengan kiri yang ia miliki sesering lengan kanan yang ia gunakan, apakah lengan kiri mereka sebagus tulisan lengan kanan yang ia miliki. dan saat kau merasakan seseorang menyudutkanmu, lakukanlah sesuatu yang tak ia mungkin dapat lakukan""contohnya?, dan apa maksudnya", sang anak kembali bertanya"kau seorang yang punya niat, dan ayah tahu itu. tapi kau tak cukup kuat memiliki tekat yang kau miliki saat ini, dan dengarkan dengan seksama cerita seorang yahudi, tapi coba kau tanamkan tekatnya bukan seterusnya", kemudian sang ayah menceritakan sebuah anekdot tentang keluarga seorang yahudi. "terdapat seorang keluarga di mana seorang anak di didik buka sebatas pendidikan formal yang ia peroleh, melainkan lebih dari itu. dan kemudian seorang anak bertanya terhadap ayahnya, "apakah kita juga harus percaya terhadap orang di sekeliling kita?", dan si ayahpun menjawab dengan lugasnya, "coba kau ikuti kata-kata ayahmu ini nak", "bila kau ingin menemukan jawabannya naiklah ke sebuah pohon dan yakinkan dirimu di dalam hatimu kemudian bulatkan tekatmu bahwa tubuhmu dapat ringan seringan yang kau bayangkan setelah itu peganglah cincin ini", tambahnya. "maka kau dapat terbang sesuai dengan apa yang kau bayangkan, dan percayalah kata-kata ayahmu ini nak", ucapnya dengan lugas. kemudian selang beberapa waktu sang anak melakukan apa yang di perintahkan oleh sang ayah, dan ternyata apa yang ia dapat tak sesuai dengan apa yang ia harapkan, kini seluruh tubuhnya di penuhi dengan luka-luka yang di timbulkan oleh perbuatannya sendiri. kemudian sang anak bertanya ke pada ayahnya sambil menangis, "kenapa ayah tega, ayah bilang aku bisa terbang jika aku yakin, tapi apa nyatanya", sang anakpun menangis. kemudian sang ayah berkata "kau yakin, tapi yang kau yakini bukanlah apa yang ada di dalam hatimu, melainkan kau yakin dengan perkataan orang yang jelas-jelas itu kontradiktif dengan apa yang kau yakini dalam dirimu nak", "percayalah pada dirimu apapun itu, tuntunan hidupmu bukan dari orang lain, melainkan dirimu sendiri, kau yang jalani kau yang putuskan nak", ucapnya dengan tegas. mulai saat itulah si anak mulai di tanamkan doktrin bahwa sanya tak ada yang lebih baik dari keputusan diri sendiri apapun resikonya, tuturnya."yaa itulah sepenggal cerita pendek yang dapat kau ambil hikmahnya nak, tapi perlu ayah tekankan, tak selamanyapula perkataan orang justru mendeskriditkan kita, jadikanlah semua itu cambukan untuk dirimu menjadi lebih, dan bukan sebaliknya menjadikan sebagai batu sandungan untuk kita menyesal apa yang sudah di takdirkan terhadap kita", ucap sang ayah terhadap anaknya."yaa, aku sudah mengerti itu yah, lain kali takkan ada lagi penyesalan tentang ini itu yang terlontar dari mulutku""lakukan apa yang meurutmu baik untukmu nak", tambahnya.

Sunday, 16 May 2010

"setengah crayon hitam dan seorang anak"

Terdapat dua puluh anak yang tengah mengikuti pendidikan di sebuah taman kanak-kanak. riuh gemuruh terdengar seakan tiba waktunya palu godam di ayunkan, namun seketika terhenti sejenak tatkala sorang guru mengatakan

" hari ini kita menggambar ".

Serentak ke dua puluh anak-anak tersebut menyiapkan dan meletakan pensil, penghapus dan alat-alat gambar lainnya tepat di mejanya masing-masing

sambil menunggu lembar demi lembar kertas yang siap di sajikan layaknya ayam goreng beserta french friesnya. ke dua puluh anak tersebut mengisi waktu luangnya dengan bercanda gurau lari sana sini layaknya sekumpulan mamot-mamot yang tengah berlarian menghindari jutaan hujan meteor yang mengancam habitatnya.

namun di antara sekian puluh anak sebayanya ada satu anak terdiam tanpa banyak kata, dingin sedingin puncak gunung fuji di malam hari, hanya mengambil sepotong crayon berwarna hitam dari ranselnya dan meletakan crayon hitam itu tepat di mejanya dengan gaya pecatur master yang menggerakan pion-pionya dengan mantab.

ini tampak kontras dengan anak-anak yang lainnya yang menyiapkan berbagai macam alat gambar mulai dari rautan, busur, jangka sorong, pensil dengan berbagai macam warna, penggaris dengan berbagai macam bentuk menghiasi di setiap mejanya masing-masing.

Seketika ibu guru mengatakan gambarlah sesuai dengan imajinasi kalian dan tunjukan apa yang kalian hasilkan melalui goresan tangan indah kalian.

Serentak sekumpulan murid-murid taman kanak-kanak tersebut menggambar dengan penuh inspiratif mulai dari goresan-goresan liar yang penuh artistik dengan berbagai macam bentuk panorama alam yang liar, seliar pemikiran dan goresan-goresan yang di hasilkan kumpulan anak-anak yang inspiratif tersebut.

lima belas menitpun sudah berlalu, lembaran demi lembaran kertas yang tadinya putih seputih pemikiran ke dua puluh anak-anak tersebut mulai tampak kotor dengan berbagai macam warna-warna yang tertuang di setiap lembar ruang kosong yang menghiasi hari indah mereka, seperti itulah memang hidup penuh dengan warna-warni.

Tangan-tangan kecil merekapun terus bergerak takberaturan layaknya jarum kompas yang bergerak menentukan arah setiap anak-anak ini melangkah.

Mulai dari pegunungan beserta pemukiman di bawahnya sampai dengan hutan beserta isinya tak hayal menjadi objek kreatifitas mereka namun di sela-sela itu semua lagi-lagi anak yang pendiam dan dingin tersebut membuat ibu guru bertanya-tanya apa yang sebenarnya dia lakukan dengan hanya menggunakan setengah crayon hitamnya itu, hanya goresan-goresan hitam yang membingungkan yang menghiasi lembaran kertasnya namun tanganya terus bergerak tak karuan dan amat cepat secepat badai katrina yang menuju pemukiman dan menghempaskan apa saja yang di lewatinya.

Lalu ibu gurupun bertanya kepada anak tersebut

" apa yang sedang kamu gambar nak? ", dengan penuh tanya.

Anak itupun diam dan terus terdiam tanpa mempedulikan sekitarnya layaknya anak kucing yang sedang asik bermain dengan buruannya.

Ibu guru itupun menarik lembaran kertasnya dan memberikan lembaran kertas yang baru dan lagi-lagi sama goresan hitam yang tak berarti.

Ibu guru itupun terus bertanya-tanya dalam benaknya apa yang dia tuangkan dalam pemikirannya sudah puluhan kertas di berikan padanya tapi hasilnya selalu sama, goresan-goresan hitam yang takberseni, takberarti bahkan hanya akan di jadikan sebagai tempat untuk para pedagang kacang rebus di sekolah ini menjajakan barang dagangannya.

Namun ibu guru tersebut menangkap ada yang beda dari pemikiran anak pendiam tersebut, satu demi satu ibu guru itupun memperhatikan puluhan lembar kertas yang di hasilkan anak pendiam tersebut dan mulai menyusunnya tak hayal sebuah puzzle yang di hasilkan puluhan lembar kertas itupun mulai membentuk sesuatu lalu ibu gurupun memberikan satu demi satu lembaran-lembaran kertas kosong tersebut kepada anak yang membingungkan ini tak hayal gambar seekor ikan paus pemburu sebesar setengah dari ruang kelas terbentuk dari hasil puluhan lembar kertas-kertas anak pendiam tersebut.

Tak hayal ibu gurupun mengharu biru dengan pemikiran anak pendiam tersebut.

Yang tadinya ia merendahkan dan mencibir anak tersebut kini berubah 180 derajat ia terpukau akan hasil dari anak yang iya kira rendah tersebut, dengan goresan-goresan tangannya iya menghasilkan karya yang spektakuler dan amat sangat inspiratif layaknya lukisan michaelangelo yang terpampang di dinding kapel sistina amat sangat menenangkan mata bagi mereka yang melihatnya.

Lagi-lagi anak yang inspiratif ini lahir dengan ide-idenya yang penuh dengan pemberontakan namun mengandung gagasan dan nilai-nilai pemikiran yang amat sangat inspiratif dengan berbagai macam asumsi-asumsi yang apatis di tengah terobosan-trobosan yang ia hasilkan dan kini anak ini mengejutkan guru-guru yang ada di sekolah taman kanak-kanak tersebut, sensasi yang di hasilkan anak pendiam dan dingin tersebut amat sangat terasa bagi orang-orang yang berada di sekitarnya.

Jelas ini mengajarkan bahwa apapun hal kecil yang kita hasilkan jangan pernah takut untuk menunjukannya ke mata dunia, karna kita dilahirkan sebagai seorang pemimpi bukan sebagai seorang pecundang yang hanya bisa menganggap rendah gagasan dan pemikiran kita.

Teruslah memberontak dengan ide-ide liar kita maka kita akan menemukan satu menit, ya hanya satu menit yang amat sangat berarti buat hidup kita..

 Inilah sebagian potret kecerian anak Indonesia yang sebenarnya ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti terhadapnya, keluarganya tau bahkan negaranya dan rintangan apa yang mungkin di hadapinya ketika ia mulai beranjak dewasa dan merasakan apa yang di namakan TANGGUNG JAWAB.

JANGAN MENYERAH INDONESIA!!

 

 

ulasan the winer stands alone


Udah lama ga nulis, cuman pas mau nulis hari ini. Tiba-tiba terfikir untuk buka folder -1182K7- padahal udah 4 tahun tuh folder nyantol di komputer, tapi masih aja sempet-sempetnya di buka, haduh susah untuk ngelupainnya. Kadang kita selalu berfikir lebih baik lupakan masa lalu dan jalanilah masa ini, padahal itu salah banget, kalo kata bungkarno INGAT JANGAN LUPAKAN JAS MERAH!, masa lalu atau kenangan kan juga padahal sejarah cuman bedanya kalo yang di katakan bungkarno bersifat universal yang mencakup kejadian penting nasional nah kalo kenangan di sini lebih bersifat personal, tapi apakah itu bisa di katakan sejarah??, sampai saat ini ga ada yang menyebutkan itu sejarah mungkin untuk kita yang mengalaminya kenapa harus bilang tidak, sejarahkan sebuah peristiwa yang besar, yang mencakup keseluruhan bentuk terjadinya masa ini. Begitu juga bentuk karakter dan emosi kita bisa di lihat dari karakter sebuah peristiwa yang pernah kita alami, jadi gw harus bilang ini sejarah dalam konteks pribadi, terlepas dari itu semua gw harus jadi pemenang dalam diri gw sendiri, seperti yang di katakan paolo coelho, the winer stands alone, pemenang berdiri sendiri. inilah Sedikit ulasan buku paulo coelho yang berjudul the winner stands alone, dari beberapa hal yang gw baca ada sebuah perbedaan pandangan terhadap orang-orang yang dikatakan sebagai pemenang menurut penulis ada sebuah karakter di mana, ego itu mengalahkan akal sehat untuk melakukan sebuah naluri yang menurutnya itu salah, tapi dia tau itu salah sehingga terjadi pergolakan batin yang di timbulkan oleh keinginan yang tidak bersifat rasiona. Seperti karakter igor di sini dia adalah seorang yang merasa perihatin terhadap bentuk sosial yang mempengaruhi jalan pikiran orang lain padahal sebenarnya kalo gw pikir karakter igor sendiri adalah orang  yang salah, karna pada dasarnya dia sendiri yang tepengaruh jalan pikirannya sendiri yang tak bersifat rasional. di sini bukan berarti siapa pemenang dan siapa yang kalah, pada dasarnya adalah bagaimana seseorang melawan jalan pikiran yang menurutnya ini tuh salah

Orang besar karna di pecundangkan

Ini sebagian besar cerita-cerita sukses seseorang yang pernah ku baca dalam bukunya di antaranya adalah kolonel sanders  seorang yang berumur 65 tahun dengan satu-satunya kekayaan berupa uang pensiun sebesar 105 US dollar seorang yang sudah rentan dan bermuka tebal memasuki ribuan restoran untuk menjual cara menggoreng ayam. Dan di restoran ke 1009 baru idenya di sambut dan di terima

Ada pula seichio honda berani membayar mahal tangannya untuk mencapai cita-cita menjadi pendesain piston dan dia bahkan berani menulis sukses 98% di bentuk dari kegagalan, dan ada pula cory aquino seorang ibu rumah tangga biasa tanpa pengalaman dan pendidikan memadai, berhasin membangun fondasi demokrasi yang meyakinkan di filipina berkat keberaniannya dalam melakukan inovasi. Tak pula kita tak luput oleh keberhasilan abraham lincoln yang pernah terkena depresimental, berulang-ulang karna gagal sebagai wakil rakyat, pengusaha, dan wakil presiden, nekat mencalonkan diri sebagai presiden amerika serikat. Dan dunia kagum dengan prestasi nya

Dan banyak tokoh-tokoh lain yang begitu saya kagumi di dunia ini yaitu edward de bono, ia termasuk pemikir yang menghabiskan bnyak hidupnya untuk ketrampilan berfikir. Seperti hal nya yang dikutip dalambuku inovasi atau mati karya gede prama menyatakan bahwa ada bnyak perbedaan antara sekolah manajemen di akhir 80an dengan akhir 90an. Salah satunya pada tokoh yang di tampilkan di era 80an yang memunculkan seorang tokoh management hero bernama michael E. porter di sebut hero tidah hanya saja populer tetapi juga amat berpengaruh di sekolah management. Sedangkan di era 90an muncul tokoh yang bernama michael hammer sama-sama berpikir dalam kerangka. Sama-sama menyebut dirinya sebagai pengamat dan sama-sama berpengaruh karna menyebut pendekatannya sebagai pendekatan ‘baru’.

Ada sejumlah pelopor peradaban yang tidak membiarkan dirinya diperkuda format otak serta harapan. Sebut saja andrew grove orang nomer satu di intel corp sebuah perusahaan yang memberi warna banyak terhadap teknologi informasi dunia. Di satu kesempatan andrew grove mengemukakan rahasia sukses di era baru ini terletak pada ketekunan untuk membuktikan bahwa diri anda salah, menantang seluruh cara berfiki anda, menemukan hal-hal cacat dalam model mental anda, dan keseriusan untuk selalu bereksperimen dengan seluruh alternatif yang mungkin.

Dan ada pula genta ogami seorang jepang yang sukses menerapkan G sistemnya dan berhasil merauk omset 124,8 milyar yen pertahun. Dan juga steve job pendiri apple  computer, pixar studio, dan juga Ipod, howard schultz, pemilik starbucks jaringan kedai kopi. Itulah sekumpulan orang-orang yng sukses dan berhasil menggapai apa yang di namakan motivasi dalam hidupnya.