Saturday, 30 October 2010

naluri pecundang

"aku berdiri di tempat di mana rasa lapar, haus tak dapat lagi kutemukan
orang tak lagi merintih, sekalipun keadaan tak mungkin dapat di tolerir
rasa cemas akan apa..di mana.. seakan sirna
nyalanya lampu menyamarkan sosok yang tak pernah di impikan
dan aku.. membuka mata berlahan, hati..telinga ku satukan
aku pejamkan mata, sosok itu lenyap..ku mulai samarkan..
ahhh aku tak sanggup menatap matanya
ada yang berbeda, tak mungkin kusandingkan dengannya
ini terlalu gila"..bisik ku.

. dibelakang ,

hidup ini adalah sebuah pilihan..
bukan pula sebuah ketakutan,
kecemasan yang selama ini kau rasakan..
layaknya sutradara kau yang tentukan,

CASSADEE POPE





Friday, 22 October 2010

ITU AKU!

kau katakan aku pecundang
kau katakan aku pengecut
itu aku, kau katakan
kau katakan aku tak layak
kau katakan aku tak pantas
itu aku, kau katakan
dan aku katakan...
itu aku, dulu
dan kini...
aku tak seperti yang kau katakan
aku punya cita-cita
aku punya masa depan
itupun aku yang katakan
saat itu aku katakan...
dan kaupun mengatakan...
ITU AKU!!

Friday, 15 October 2010

SAMA HALNYA, TAK BERARTI!

SAMA HALNYA, TAK BERARTI!

Tadi, kemarin, besok ataupun lusa sama saja bagiku tak ada sesuatu yang dapat mengembalikannya. Tak adanyapun tak mempersulit diriku, jatuh bangunku aku yang alami tidak untuknya atapun dirinya, bodohnya aku permasalahkan apa yang tak ada, hingga ku terjerumus di kubangan yang sama, sama-sama lupa, sama-sama tak mengalah, sama-sama egois, sama-sama sadar aku dan dirinyapun melakukan hal yang sama, dan semuanyapun kini sama sekali hal yang seharusnya tidak kita lakukan bersama.

STUDI BANDING ALA ANAK TK

STUDI BANDING ALA ANAK TK

“besok persiapan study tour, tolong di persiapkan apa saja yang akan di bawa untuk keperluan putra-putrinya besok bagi para orang tua yang mengawasi putra-putrinya”, ucap salah satu guru terhadap orang tua murid yang menghadiri rapat tersebut.

Sepenggal wacana tersebut tak ubah bedanya dengan para anggota dewan kita yang tengah asik membahas studi banding yang sekarang tengah hangat-hangatnya menjadi polemik publik. di samping menghabiskan dana yang tidak sedikit, di sisi lain banyaknya intervensi asing yang mempengaruhi stabilitas perekonomian, negara juga di hebohkan oleh segelintir oknum-oknum yang ingin menguasa negara dengan caranya. padahal kalau kita tarik dari sudut yang berbeda banyak polemik-polemik yang berkembang di tengah masyarakat saat ini “hasil pengeluaran taksesuai dengan hasil yang di dapat”, ketika anak mulai mendengarkana kata study tour dari gurunya yang terpikirkan mungkin gambarana-gambaran yang sifatnya menyenangkan dalam konteks “bersenang-senang”, bersenang-senang di sini bukannya hanya apa yang bisa di dapatkan dari hasil pengamatan. terlebih, dari itu semua melainkan apa yang bisa di beli dan apa saja yang bisa di lakukan sesampainya di sana, semakin menarik tempat yang akan di kunjunginya semakin menyenangkan pula kepuasaan yang di dapatkannya. Sama halnya ketika anggota dewan melakukan agenda studi banding tak ubahnya seorang anak-anak TK yang kegirangan ketika di sahkannya agenda tersebut dalam rapat paripurna. Tempat merupakan ajang gengsi bagi para anggota dewan, kan tidak lucu apabila studi banding ke luar negri hanya sebatas negara tetangga terlebih dengan banyaknya isu dan polemik yang tengah berkembang di masyarakat di samping telalu singkat, kepuasaan yang di peroleh tak sebanding dengan agenda yang tentunya menjadi tujuan utamanya (bersenang-senang) jadi tempat eksotislah pilihannya. Studi banding bukanlah sesuatu yang salah dan biasa saja, sah-sah saja ketika anggota dewan melakukan perbandingan dan di terapkan sebagai ajang memperbaiki bangsa, tapi ketika membelot dari agenda yang sudah di tentukan ini bukanlaha hal yang biasa. Nyatanya banyak kita dengar studi banding hanya di jadikan sebagai banding membandingkan harga, tak lucu rasanya apa bila anggaran yang di keluarkan oleh rakyat hanya di jadikan ajang untuk hepi-hepi sampai-sampai pulang dengan tangan kosong (belanja) apa lagi ada penyuapan di dalamnya, mungkin saja istilah itu sekarang di samarkan ketika anggota dewan tak di perbolehkan lagi menerima hadiah dalam bentuk apapun dan seketika studi banding di jadikan ajang sebuah nama yang pas untuk mengabu-abukan mata masyarakatn tentang kinerja pemerintahan, hal itu boleh saja di lakukan wong namanya saja studi banding membandingkan suatu tempat dengan tempat yang lebih baik tentunya. namun faktanya di lapangan taksesuai dengan apa yang sudah di agendakan sebelumnya, membanding-bandingkan harga itu mungkin lebi dari sekedar cocok menggambarkan tingkah laku para dewan saat ini. Bagaiman tidak ketika berangkat dengan mebawa aspirasi rakyat namun ketika datang koper-koper yang berisikan lusinan merek dagang menemani kepulangan mereka. Yaa ini kita dan negara kita, urusan menyenangkan rakyat jelas kita nomer satunya sampai-sampai untuk biaya sekolah bagi para tunas bangsa kita saja di abaykannya, orang-orang korup sekalipun saja masih sempat di manjakan di ruang tahanan dengan fasilitas kelas hotel bintang lima, dan belum lama ini disahkannya anggaran pembangunan gedung mewah DPR yang tak kurang 1 trilliun rupiah yang harus di habiskan dan lengkap pula dengan sarana olahraga yang katanya dapat menunjang anggota dewan agar tampak selalu bugar, kalo sudah begitu pastinya tidak kita temui lagi wajah-wajah lesu dari para anggota dewan pada saat rapat paripurna berlangsung yang selama ini acap kali terjadi. lalu di mana 233 juta orang miskin lainnya yang tak dapatkan fasilitas yang sama??, atau mungkin itu hanyalah isapan jempol belaka yang hanya tuhanlah yang tahu seburuk apa ke adaan mereka tanpa pernah kita tahu sebelum kita melihatnya kebelakang dan merasakan apa yang di rasakan kawan kita tersebut, pantaslah kita sebut negara ini kaya wong anggota dewannya saja di danai rakyat untuk sekedar leha-leha ke negri pesohor nan eksotis 233 juta rakyat miskin tentunya hanyalah sebuah tanda tanya besar.

Bersikap Proposional

Sudah waktunya pemerintah bersikap proposional dalam menentukan agendanya, mana yang harus di prioritaskan dan itu harus di nomer satukan, namanya saja prioritas, lucu kalo di nomer duakan apalagi di hiraukan, terlebih ketika hubunganya dengan aspirasi rakyat. jangan gara-gara perjalanan studi banding pramuka ke afrika wakil dewan yang katanya terhormat lupa akan tanggung jawabnya sebagai anggota dewan yang mengemban aspirasi rakyat, hasil merupakan bukti pencapaian yang nyata. Sayangnya budaya berpolitik dinegri ini di katakan proposional apabila sudah sesuai pada kepentingan parpolnya bukan lagi rakyat, dan kini kitapun hanya bisa gigit jari ketika segelintir oknum sudah mulai menerapkannya. dan ketika studi banding sudah di katakan proposional tentunya akan ada pertanggung jawaban yang menghasilkan buktinyata yang harus di terapkan bagi si pelaku, hal ini pulalah yang harus di pertanyakan nantinya jangan giliran di tanya hasil hanya bisa geleng-geleng kepala terlebih saling menuding ketika di minta pertanggung jawabannya. Berkacalah dari pengalaman, ketika hal tersebut di nyatakan tidak efektif apagunanya hal serupa kembali di lakukan terlebih ketika masyarakat tengah di persulit oleh stabilitas perekonomian yang tak kunjung membaik. Kehormatan bukan hanya di lihat dari seberapa mampu pemerintah memfasilitasi para anggotanya melainkan seberapa besar pemerintah mampu memfasilitasi rakyatnya.

Wednesday, 9 June 2010

merdeka dalam menulis!!!

saya ingin menulis, tapi tak sepantasnya saya menulis di sini, di tempat seperti ini dengan situasi seperti ini, ada yang salahkah???, ah mungkin cuman pikiran yang terlintas saja, tak usah pikirkan, cukup dengan 10 menit, oh tidak mungkin lebih, gimana kalo 15 menit, ah tidak juga 20, 25, 30..
mungkin tidak terlihat berarti tapi suatu saat pasti berarti, ok di mulai dari hitungan ke tiga ya, 3, 2,1, dan tunggu ada yang terlupa, pensil, pulpen atau penghapus, awan cerah di luar tak mengganggu, atau perlu sedikit...... saya tidak tahu apa yang harus saya ketik selanjutnya, ok di mulai tapi tulis apa yaaa, mungkin ini saja, saya tidak kerja hari ini, bolos, tapi tidak juga apa yaa?, yaa, sangat mungkin alasannya, ehmmm belum di pikirkan mungkin besok, lusa oh tidak cepat atau lambat mereka pasti bertanya, ya sudahlah tidak usah dipikirkan, lupakan saja, haduh ngantuk, tapi ga ingin tidur, jadi maunya apa??, tidak ingin banyak gerak, cukup duduk dan tenang, apakah sudah 10 menit???, sepertinya belum, Kalo begitu lanjutkan, fokus tapi tidak bisa, harus bisa!!!, jgn galak-galak donk, tangan pegal anj......oh tidak kata-kata kotor tidak penting, ganti dengan yang lain, siaaalllllll, apanya yang sial???, sudah jangn banyak tanya tetap fokus dan akhirnya duaaaarrrr, meledak balonya, merah, tapi sepertinya bukan, mungkin kuning, tapi bukan juga oh ya saya tahu hijau, persis baju yang saya gunakan.. tapi tunggu baju saya berwarna putih, ok kalo begitu hijau kita hapus dan ganti putih, apakah ada yang punya penghapus???, tidak!!!, saya belum pulang hari ini, gimana keadaan rumah. mungkin baik, saya lupa mandi ini, bagaiman bisa lupa yaaa, sudahlah jangan terlalu serius kita santai saja di mulai hari ini, jgn terlalu terburu-buru, oh tidak leher pegel mata sakit, istirahat sejenakkah???, nanti saja belum 10 menit ok kita tunggu yaaa, sampai kapan???, sampai nanti ???, nantinya kapan????. kapan-kapan. haduh cape tapi belum cukup waktu dan belum cukup banyak, ok tiga baris lagi yaaa, atau empat munglkin???, tidak, tidak cukup tiga baris saja!!! OK, sepertinya hampir tiga baris dan waktu hanya sampai 5 menit saja, ya sudah lima menit saja dan jangan teruskan 1,2,3,4,5 sudah lima menit dan waktu berakhir...

Tuesday, 1 June 2010

jalan ketentuan hidup

pada suatu hari, seorang anak bertanya kepada ayahnya karna sang anak merasa dirinya tak lagi mampu bangkit dari hinaan, cacian yang ia terima dari perlakuan teman2nya. ia merasa di asingkan, karna sang anak memiliki kekurangan di bandingkan teman-teman sebayanya, ia seorang yang tak memili lengan yang sempurna di lain sisi ia seorang anak yang memiliki segudang bakat dan talenta yang tak teman-temannya miliki, namun menurutnya hinaan dan cacian temannya-temannya mengalahkan semangat awal yang ia yakini sebelumnya, sebelum ia ingin mengenal apa itu pertemanan, apa itu pergaulan dan apa itu solideritas, kini ia tahu jawabannya dan ia pun menyesali itu. di sela-sela percakapannya dengan ayahnya ia bertanya "apakah ada yang tak lebih penting dari mengurusi harga diri?", ucapnya.sang ayah pun menjawab dengan heran "apa maksudmu nak, tak biasanya kau berkata sedemikian pentingnya?""yaa, apakah seorang yang tak sempurna harus hidup juga dengan ketidak sempurnaannya, dan apakah yang sempurna harus hidup sesempurna mungkin dengan melupakan hakekat tanggung jawabnya sebagai manusia??"."dan tentunya itu bukanlah kehendak kita menjadi orang yang taksempurna", tambahnya.sang ayahpun menegaskan kepada sang anak "kau tahu betapa pentingnya kesempurnaan, dan kau tahu betapa celakanya mereka -yang kau sebut itu.""tapi ada yang tak mereka miliki dari kesempurnaan yang mereka miliki, apakah mereka mersakan ketidak sempurnaan yang kau rasakan, apakah mereka mengenal kesempurnaan yang mereka miliki, tangan, kaki, dan ke dua mata mereka apakah mereka dapat menggunakannya secara serentak, coba kau bayangkan seorang yang di anugrahi ke dua lengan, apakah lengan kiri yang ia miliki sesering lengan kanan yang ia gunakan, apakah lengan kiri mereka sebagus tulisan lengan kanan yang ia miliki. dan saat kau merasakan seseorang menyudutkanmu, lakukanlah sesuatu yang tak ia mungkin dapat lakukan""contohnya?, dan apa maksudnya", sang anak kembali bertanya"kau seorang yang punya niat, dan ayah tahu itu. tapi kau tak cukup kuat memiliki tekat yang kau miliki saat ini, dan dengarkan dengan seksama cerita seorang yahudi, tapi coba kau tanamkan tekatnya bukan seterusnya", kemudian sang ayah menceritakan sebuah anekdot tentang keluarga seorang yahudi. "terdapat seorang keluarga di mana seorang anak di didik buka sebatas pendidikan formal yang ia peroleh, melainkan lebih dari itu. dan kemudian seorang anak bertanya terhadap ayahnya, "apakah kita juga harus percaya terhadap orang di sekeliling kita?", dan si ayahpun menjawab dengan lugasnya, "coba kau ikuti kata-kata ayahmu ini nak", "bila kau ingin menemukan jawabannya naiklah ke sebuah pohon dan yakinkan dirimu di dalam hatimu kemudian bulatkan tekatmu bahwa tubuhmu dapat ringan seringan yang kau bayangkan setelah itu peganglah cincin ini", tambahnya. "maka kau dapat terbang sesuai dengan apa yang kau bayangkan, dan percayalah kata-kata ayahmu ini nak", ucapnya dengan lugas. kemudian selang beberapa waktu sang anak melakukan apa yang di perintahkan oleh sang ayah, dan ternyata apa yang ia dapat tak sesuai dengan apa yang ia harapkan, kini seluruh tubuhnya di penuhi dengan luka-luka yang di timbulkan oleh perbuatannya sendiri. kemudian sang anak bertanya ke pada ayahnya sambil menangis, "kenapa ayah tega, ayah bilang aku bisa terbang jika aku yakin, tapi apa nyatanya", sang anakpun menangis. kemudian sang ayah berkata "kau yakin, tapi yang kau yakini bukanlah apa yang ada di dalam hatimu, melainkan kau yakin dengan perkataan orang yang jelas-jelas itu kontradiktif dengan apa yang kau yakini dalam dirimu nak", "percayalah pada dirimu apapun itu, tuntunan hidupmu bukan dari orang lain, melainkan dirimu sendiri, kau yang jalani kau yang putuskan nak", ucapnya dengan tegas. mulai saat itulah si anak mulai di tanamkan doktrin bahwa sanya tak ada yang lebih baik dari keputusan diri sendiri apapun resikonya, tuturnya."yaa itulah sepenggal cerita pendek yang dapat kau ambil hikmahnya nak, tapi perlu ayah tekankan, tak selamanyapula perkataan orang justru mendeskriditkan kita, jadikanlah semua itu cambukan untuk dirimu menjadi lebih, dan bukan sebaliknya menjadikan sebagai batu sandungan untuk kita menyesal apa yang sudah di takdirkan terhadap kita", ucap sang ayah terhadap anaknya."yaa, aku sudah mengerti itu yah, lain kali takkan ada lagi penyesalan tentang ini itu yang terlontar dari mulutku""lakukan apa yang meurutmu baik untukmu nak", tambahnya.